Selama ini penahanan tanpa persidangan atau yang dikenal sebagai prosedur "penahanan administrasi", hanya diterapkan pada para tersangka militan Palestina. Praktik ini pun telah menuai kecaman internasional. Namun kini prosedur tersebut juga diberlakukan bagi warga Israel.
Keputusan kabinet Israel ini dilakukan menyusul pembakaran sebuah rumah warga Palestina di Tepi Barat pada Jumat, 31 Juli waktu setempat. Pembakaran yang diduga dilakukan para ekstremis Yahudi itu menewaskan seorang bayi berumur 18 bulan dan menyebabkan kedua orangtua sang bayi dan kakaknya terluka parah. Kondisi mereka saat ini masih kritis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembakaran di Tepi Barat itu menuai kecaman publik Israel dan global. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pun bersumpah akan memberantas apa yang disebutnya sebagai "terorisme oleh para penjahat di negara kita".
Namun sejauh ini, kepolisian Israel belum melakukan penangkapan satu tersangka pun terkait aksi pembakaran itu. Hal ini menimbulkan keraguan akan kesungguhan aparat keamanan Israel untuk menangkap para pelaku. Sebabnya, ini berbeda dengan respons otoritas Israel terkait serangan-serangan yang dilakukan para militan Palestina.
Selama ini, otoritas Israel kerap menangkapi banyak tersangka militan Palestina untuk mempercepat penyelidikan. Para tahanan itu banyak yang ditahan tanpa persidangan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. (ita/ita)











































