Rusia Veto Resolusi PBB Soal MH17, Australia Tak Akan Menyerah

Rusia Veto Resolusi PBB Soal MH17, Australia Tak Akan Menyerah

Rita Uli Hutapea - detikNews
Minggu, 02 Agu 2015 15:29 WIB
Rusia Veto Resolusi PBB Soal MH17, Australia Tak Akan Menyerah
puing-puing MH17 (Reuters)
Canberra, - Pemerintah Australia tak akan menyerah dalam upayanya untuk mengadili pelaku penembakan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang jatuh di Ukraina. Penegasan ini disampaikan setelah Rusia memveto resolusi PBB mengenai pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili pelaku penembakan MH17.

Menurut Australia, veto Rusia tersebut makin menimbulkan pertanyaan akan keterlibatan Rusia dalam tragedi MH17.

Pesawat MH17 jatuh setelah diserang rudal di atas wilayah konflik Ukraina timur pada 17 Juli 2014. Keseluruhan 298 penumpang dan kru pesawat Boeing 777 tersebut tewas. Para korban sebagian besar merupakan warga Belanda, namun 38 warga Australia juga menjadi korban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ukraina dan negara-negara Barat menuding separatis pro-Rusia sebagai pelaku penembakan dengan rudal yang dipasok Rusia. Namun pemerintah Rusia berulang kali membantah keterlibatan dalam peristiwa tragis itu.

"Kami benar-benar bertekad untuk memberikan jawaban bagi keluarga-keluarga tersebut," kata Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop kepada Channel Seven seperti dilansir AFP, Minggu (2/8/2015).

"Lima negara -- Belanda, Malaysia, Belgia, Australia dan Ukraina -- bertekad untuk terus menemukan mekanisme alternatif. Kami akan kembali bertemu segera dan kami akan menemukan cara yang akan membuat para pelaku bertanggung jawab atas kekejaman ini," imbuhnya.

Pada Rabu, 29 Juli lalu, Rusia menggunakan hak vetonya selaku anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan upaya pembentukan pengadilan khusus guna mengadili pelaku penembakan MH17.

Bishop menekankan, penyelidikan pelaku di balik tragedi MH17 bukan hanya penting bagi keluarga korban, namun juga bagi komunitas internasional.

"Tentu saja, kami melakukan ini untuk para keluarga, namun juga bagi komunitas internasional yang lebih luas, bahwa aviasi sipil harus tetap dipandang aman. Orang-orang harus bisa menaruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada maskapai komersial dan bepergian dengan pesawat-pesawat komersial," tandas Bishop.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads