Menurut Australia, veto Rusia tersebut makin menimbulkan pertanyaan akan keterlibatan Rusia dalam tragedi MH17.
Pesawat MH17 jatuh setelah diserang rudal di atas wilayah konflik Ukraina timur pada 17 Juli 2014. Keseluruhan 298 penumpang dan kru pesawat Boeing 777 tersebut tewas. Para korban sebagian besar merupakan warga Belanda, namun 38 warga Australia juga menjadi korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami benar-benar bertekad untuk memberikan jawaban bagi keluarga-keluarga tersebut," kata Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop kepada Channel Seven seperti dilansir AFP, Minggu (2/8/2015).
"Lima negara -- Belanda, Malaysia, Belgia, Australia dan Ukraina -- bertekad untuk terus menemukan mekanisme alternatif. Kami akan kembali bertemu segera dan kami akan menemukan cara yang akan membuat para pelaku bertanggung jawab atas kekejaman ini," imbuhnya.
Pada Rabu, 29 Juli lalu, Rusia menggunakan hak vetonya selaku anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan upaya pembentukan pengadilan khusus guna mengadili pelaku penembakan MH17.
Bishop menekankan, penyelidikan pelaku di balik tragedi MH17 bukan hanya penting bagi keluarga korban, namun juga bagi komunitas internasional.
"Tentu saja, kami melakukan ini untuk para keluarga, namun juga bagi komunitas internasional yang lebih luas, bahwa aviasi sipil harus tetap dipandang aman. Orang-orang harus bisa menaruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada maskapai komersial dan bepergian dengan pesawat-pesawat komersial," tandas Bishop.
(ita/ita)











































