Ditahan, Pendeta Kanada Akui Ingin Gulingkan Pemerintah Korut

Ditahan, Pendeta Kanada Akui Ingin Gulingkan Pemerintah Korut

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 31 Jul 2015 13:50 WIB
Ditahan, Pendeta Kanada Akui Ingin Gulingkan Pemerintah Korut
Hyeon Soo Lim dalam konferensi pers (REUTERS/KCNA)
Pyongyang - Seorang pendeta asal Kanada ditahan oleh otoritas Korea Utara (Korut) sejak Februari lalu. Media resmi Korut menyebut pendeta ini telah mengaku dirinya berniat menumbangkan pemerintah Korut.

Pendeta keturunan Korea bernama Hyeon Soo Lim ini memimpin gereja Light Korean Presbyterian Church di Toronto, yang merupakan salah satu gereja terbesar di Kanada dengan 3 ribu jemaat. Korean Central News Agency (KCNA) menyatakan, Lim dengan jujur mengakui seluruh kejahatan yang ditudingkan terhadapnya.

KCNA menyebut, dalam konferensi pers Lim mengaku dirinya pergi ke Korut dengan dalih untuk kerja kemanusiaan dan mengumpulkan bahan untuk khotbah di luar negeri. Padahal sebenarnya dia berniat menumbangkan rezim Korut saat ini. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (31/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Membalikkan sistem sosial dengan memanfaatkan kebijakan jahat dari otoritas Korea Selatan dan membangun landasan bagi negara agama," demikian sebut KCNA mengutip pernyataan Lim.

Dalam pernyataannya, menurut KCNA, Lim mengaku dirinya bekerja sama dengan otoritas Korsel dan Amerika Serikat untuk membujuk dan menculik warga Korut, untuk membantu para pembelot Korut yang berhasil lolos.

Pada Maret lalu, gereja di Kanada yang dipimpin Lim menyatakan pemimpin mereka ditahan di Korut saat menjalani misi kemanusiaan rutin. Lim yang lahir di Korsel ini sudah mengunjungi Korut lebih dari 100 kali sejak tahun 1997. Menurut pihak gereja di Kanada, Lim banyak membantu warga Korut, seperti membangun panti asuhan dan rumah jompo. Lim tinggal di Kanada sejak tahun 1986 dan merupakan warga negara Kanada.

Departemen Luar Negeri Kanada mengaku telah mengetahui penahanan warganya di Korut. "Kami terus mengupayakan akses konsuler dan solusi untuk kasus Lim," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Kanada. (nvc/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads