Cecil merupakan singa paling terkenal dan paling tua di Zimbabwe yang menjadi daya tarik Hwange National Park di Zimbabwe. Cecil yang merupakan singa jantan ini, juga menjadi fokus penelitian ahli binatang dan ilmuwan asal Oxford University. Dia dipasangi GPS agar mudah dilacak untuk penelitian.
Kematian Cecil sempat memicu hashtag #RIPCecilTheLion di media sosial Twitter, yang sebagian besar menyampaikan kesedihan atas kematian singa ini. Demikian seperti dilansir Reuters dan CNN, Kamis (30/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan seorang pemburu lokal bernama Theo Bronkhorst telah ditangkap dan tampil di pengadilan Hwange atas dakwaan gagal mengawasi, mengendalikan dan melakukan langkah yang bertanggung jawab untuk mencegah perburuan ilegal. Bronkhorst mengaku tak bersalah dan bebas setelah membayar jaminan US$ 1.000 dan menyerahkan paspornya. Dia akan diadili kembali pada 5 Agustus mendatang.
Seorang warga Zimbabwe lainnya, Honest Ndlovu yang merupakan pemilik tanah tempat Palmer membunuh singa Cecil juga dituding membantu Palmer. Namun Ndlovu baru akan diinterogasi dan belum dijerat dakwaan pidana. Jika terbukti bersalah membantu Palmer, Bronkhorst dan Ndlovu terancam hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda US$ 20 ribu.
Dalam pernyataannya, Palmer mengakui dirinya memang membunuh singa Cecil namun bersikeras perburuan yang dilakukan sesuai hukum dan telah mendapat izin dari otoritas setempat. Palmer mengklaim dirinya telah membayar pemandu profesional yang memastikan dirinya mendapat izin berburu di Zimbabwe. Lebih lanjut, Palmer mengaku menyesal saat mengetahui singa yang dibunuhnya bukan singa biasa.
Namun publik tidak sepakat dengan klaim Palmer dan melampiaskan kekecewaannya via internet. "Ini menjijikkan. Saya harap Anda dilemparkan ke dalam kandang penuh singa lapar," tulis seorang pengguna internet, ulie Lu dalam halaman Facebook tempat praktek dokter gigi Palmer. (nvc/ita)











































