Soal kesepakatan ini disampaikan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong usai pertemuan dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang berkunjung ke Singapura.
"Kita berdua khawatir akan ISIS dan kita punya warga dari negara-negara kita yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas teroris ini termasuk di Timur Tengah," tutur Lee seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama setelah pertemuan tersebut, pemerintah Singapura menyampaikan bahwa seorang warga muslim Singapura berumur 51 tahun, Mustafa Sultan Ali, dideportasi oleh otoritas Turki pada Juni lalu setelah mencoba bergabung ISIS dengan menyeberang ke Suriah.
Kementerian Urusan Dalam Negeri Singapura menyatakan, warga Singapura itu yang dideportasi itu kini berada dalam penahanan tanpa diadili selama dua tahun.
"Penyelidikan menunjukkan bahwa Mustafa telah sangat diradikalisasi oleh ideologi teroris ISIS dan ideologi radikal lainnya yang telah didapatnya secara online," demikian statemen kementerian.
"Dia telah pergi ke Turki dan mencoba masuk ke Suriah untuk berpartisipasi dalam kekerasan bersenjata dengan bertempur bersama ISIS. Mustafa juga mengatakan bahwa dia siap melakukan serangan-serangan teroris yang diperintahkan ISIS terhadap perusahaan Barat di Singapura," demikian disampaikan. (ita/ita)











































