"Kondisi ini akan memberi efek pada tingkat intensitas dan frekuensi curah hujan akan semakin berkurang dan bahkan kemungkinan awal musim penghujan di beberapa wilayah akan mengalami kemunduran," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo saat konferensi pers di Graha BNPB, Jl Pramuka Raya, Jaktim, Selasa (27/7/2015).
Menurut Sutopo, musim kemarau tahun ini mulai dari Juli hingga November 2015 dengan puncak pada Oktober-November 2015. Akibat kemarau yang lebih panjang, berbagai masalah kekeringan pun diprediksi akan lebih meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"El Nino Moderate akan mengakibatkan kondisi iklim semakin kering dan mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Krisis air, kebakaran permukiman di Jakarta semakin meningkat. Itu juga di daerah-daerah lain. Kebanyakan disebabkan korsleting, di kawasan kumuh. Apalagi di puncak musim kemarau," sambungnya.
Meski begitu, kata Sutopo, El Nino yang terjadi pada tahun ini tidak separah dengan yang terjadi pada tahun 1997. Hanya saja kondisi cuaca memang lebih parah dibanding tahun 2014.
"Wilayah Indonesia yang mengalami efek nyata El Nino adalah wilayah di selatan khatulistiwa yaitu di bagian tenggara Sumbar, Bengkulu, Jambi, Sumsel, Babel, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sultra, dan bagian barat daya Maluku," tutup Sutopo.
Bahkan di sejumlah wilayah disebut Sutopo sudah mengalam kekeringan ekstrim di mana 2 bulan tak mengalami hujan. Daerah tersebut berada di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
"Ada yang sudah 60 hari tak hujan. Kabupaten Cirebon, Majalengka, Madiun, Lamongan, Gresik, Malang, Pasuruan, Bondowoso, Buleleng, Bangli, Pulau Lombok, Sumbawa Besar, Bima, Pulau Sumba, Pulau Timor di NTT," tutupnya.
![]() |












































