Militer AS Selidiki Laporan Maraknya Kanker di Guantanamo

Militer AS Selidiki Laporan Maraknya Kanker di Guantanamo

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 28 Jul 2015 15:25 WIB
Militer AS Selidiki Laporan Maraknya Kanker di Guantanamo
Ilustrasi (Getty Images)
Washington - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki laporan maraknya penyakit kanker di kalangan pekerja yang bertugas di pangkalan AS di Guantanamo Bay, Kuba. Hal ini memicu permohonan evakuasi bagi pengacara sipil maupun militer yang bertugas di lokasi tersebut.

Sedikitnya 7 warga sipil dan personel militer yang bertugas di ruang sidang tahanan di kompleks pangkalan militer Guantanamo Bay telah didiagnosis menderita kanker. Demikian seperti disampaikan dalam keluhan yang diajukan Kantor Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS dan dilansir Reuters, Selasa (28/7/2015).

Dalam komplain itu, diserukan kepada otoritas militer AS untuk mengevakuasi orang-orang yang bertugas di fasilitas pengadilan Guantanamo Bay. Mereka juga meminta dilakukannya pemeriksaan terhadap orang-orang yang dievakuasi maupun fasilitas setempat atas keberadaan karsinogen, zat penyebab kanker.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan dalam dokumen keluhan tersebut, tidak biasanya sejumlah besar orang yang masih muda dan sehat yang bekerja di pangkalan tersebut telah didiagnosis kanker. Selama beberapa dekade, sebanyak 200 jaksa, pengacara dan staf pengadilan lainnya bekerja di pangkalan tersebut.

Diduga kuat para pasien kanker tersebut terpapar karsinogen ketika mereka tinggal dan bekerja di kompleks Guantanamo, yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan bahan bakar pesawat. Diduga juga, pasien terpapar racun semacam asbes dari gedung tua yang awalnya menjadi ruang sidang militer.

"Departemen Pertahanan AS menyadari kekhawatiran soal karsinogen di sekitar lokasi komisi militer DOD di Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo Bay," ujar juru bicara Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo Bay, Kelly Wirfel.

"Bekerja bersama Pusat Kesehatan Umum Korps Marinir Angkatan Laut dan otoritas kesehatan dan lingkungan lainnya, mengharapkan untuk menentukan langkah apapun yang diperlukan untuk menangani kasus ini," imbuhnya. (nvc/ita)


Berita Terkait