Seperti dilansir AFP, Kamis (23/9/2015), otoritas Bangladesh mengakui telah sepakat untuk menampung 155 imigran tersebut, setelah melakukan proses verifikasi kewarganegaraan yang ketat. Semua imigran ini dikategorikan sebagai imigran ekonomi.
"Orang-orang ini merupakan korban perdagangan manusia melalui laut, di wilayah Samudera Hindia," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Bangladesh, Arafat Rahman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, otoritas Bangladesh sudah menerima kembali 342 korban perdagangan manusia dari Myanmar, termasuk rombongan terakhir yang dikirimkan oleh Myanmar.
"Proses pemulangan ini merupakan manifestasi jelas dari komitmen dan keseriusan Bangladesh dalam melakukan pemulangan warga Bangladesh yang terverifikasi dalam waktu sesingkat mungkin," tegas Rahman.
Ribuan imigran gelap, yang sebagian besar warga muslim Rohingya asal Myanmar atau imigran ekonomi asal Bangladesh banyak terombang-ambing di perairan Asia Tenggara sejak Mei lalu. Pelaku penyelundupan manusia sengaja meninggalkan mereka di lautan karena otoritas Thailand meningkatkan operasi pemberantasan sindikat penyelundup manusia. (nvc/ita)










































