Pemimpin Al-Qaeda Suriah yang Dihargai Rp 93 M Tewas Dibunuh AS

Pemimpin Al-Qaeda Suriah yang Dihargai Rp 93 M Tewas Dibunuh AS

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 22 Jul 2015 11:00 WIB
Pemimpin Al-Qaeda Suriah yang Dihargai Rp 93 M Tewas Dibunuh AS
Muhsin al-Fadhli (REUTERS/State Department)
Washington - Pemimpin Al-Qaeda untuk wilayah Suriah, Muhsin al-Fadhli, tewas akibat serangan udara koalisi Amerika Serikat. Selama ini, al-Fadhli menjadi buronan karena merencanakan serangan terhadap AS dan kepalanya dihargai US$ 7 juta atau setara Rp 93 miliar.

Disampaikan juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis, seperti dilansir AFP, Rabu (22/7/2015), al-Fadhli (34) tewas terkena serangan udara koalisi AS pada 8 Juli lalu. Saat itu, menurut Davis, al-Fadhli sedang bepergian dengan sebuah kendaraan di dekat kota Sarmada, Suriah.

Davis tidak menyebut lebih lanjut apakah serangan drone atau serangan pesawat berawak yang menewaskan Fadhli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al-Fadhli disebut sebagai pemimpin Kelompok Khorasan, yang beranggotakan anggota senior Al-Qaeda yang kebanyakan berasal dari Asia Tengah dan kawasan lainnya di Timur Tengah. Kelompok ini merencanakan serangan terhadap negara-negara Barat.

Al-Fadhli yang lahir di Kuwait ini menjadi salah satu petinggi Al-Qaeda yang menjadi orang kepercayaan Osama bin Laden. Bahkan menutur intelijen AS, Al-Fadhli merupakan bagian dari lingkar dalam Osama yang mengetahui lebih dulu serangan 11 September 2001 lalu.

"Kematiannya akan mengurangi dan mengganggu operasi eksternal Al-Qaeda yang tengah berlangsung melawan AS dan sekutu serta mitranya," terang Davis.

Davis menambahkan, al-Fadhli diyakini terlibat dalam serangan terhadap Marinir AS di Pulau Failaka, Kuwait dan juga di MV Limburg, kapal tanker Prancis pada Oktober 2002 lalu.

Departemen Luar Negeri AS menetapkan imbalan sebesar US$ 7 juta untuk segala informasi yang berujung pada penangkapan maupun kematian al-Fadhli. Nama al-Fadhli masuk dalam daftar buronan otoritas Kuwait, Arab Saudi dan juga AS untuk aktivitas terorisme. (nvc/mad)


Berita Terkait