"Pemerintah memerintahkan agar Kedutaan Besar dan Konsulat Thai ditutup sementara," tutur juru bicara pemerintah Thailand, Werachon Sukhondhapatipak kepada wartawan seperti dilansir AFP, Jumat (10/7/2015).
"Kami akan memantau situasi setiap harinya," imbuhnya.
Penutupan dilakukan mulai Jumat (10/7) ini terhadap kantor Kedutaan Besar Thailand di Ankara dan kantor Konsulat Thailand di Istanbul.
Lebih lanjut, Werachon menyatakan situasi saat ini masih terkendali dan tidak ada satupun warga Thailand yang menjadi korban. Warga Thailand yang ada di Turki juga telah diimbau untuk tetap waspada. Sebabnya, diberitakan kantor berita Turki, bahwa seorang turis Asia diserang demonstran pro-ighur di Ankara pada Kamis (9/7) karena dikira warga China.
Penutupan ini dilakukan setelah unjuk rasa anti-China menyerbu kantor konsulat Thailand di Istanbul, bahkan hingga merusak gedung konsulat dan mengacak-acak barang-barang di dalamnya.
Gelombang aksi protes ini marak di Turki setelah otoritas Thailand mendeportasi sekitar 100 warga muslim Uighur yang berbahasa Turki, dari wilayahnya ke China. Deportasi ini dilakukan setelah dipastikan bahwa warga Uighur tersebut memang berkewarganegaraan China.
Dalam kesempatan terpisah, otoritas Thailand telah mendeportasi 170 warga Uighur lainnya ke ke Turki. Hal ini setelah dipastikan mereka merupakan warga negara Turki. Sekitar 50 warga Uighur lainnya di Thailand masih harus diverifikasi kewarganegaraannya. (nvc/mad)











































