Mereka telah ditahan di Thailand sejak tahun 2014 lalu. Sejak masuk secara ilegal ke Thailand pada Maret 2014 lalu, nasib warga Uighur yang berbahasa Turki itu tidak menentu. Mereka terus ditahan seiring otoritas Thai berupaya memastikan kebangsaan mereka di tengah pertentangan antara Turki dan China mengenai kemana mereka seharusnya dipindahkan.
Hingga akhirnya, juru bicara pemerintah Thai, Werachon Sukhondapatipak hari ini mengatakan pada wartawan bahwa "sekitar 100" Uighur dideportasi ke China pada Rabu, 8 Juli kemarin. Deportasi dilakukan setelah ditemukan bukti jelas bahwa mereka adalah warga negara China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 170 warga Uighur telah dipulangkan ke Turki pada akhir Juni lalu. Ini merupakan pengumuman publik pertama yang disampaikan otoritas Thai mengenai deportasi Uighur.
Namun deportasi 100 warga Uighur ke China ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan warga Uighur yang banyak bermukim di wilayah Xinjiang. Di wilayah itu, otoritas China tengah melancarkan operasi keamanan guna menghadapi meningkatnya kekerasan yang menurut China, dilakukan oleh para militan Uighur.
Atas desakan pemerintah Beijing, negara-negara seperti Kamboja, Malaysia dan Pakistan juga telah mengembalikan para pengungsi Uighur ke China. (ita/ita)











































