Kesepakatan soal pinjaman ini ditandatangani kedua pihak pada 19 Mei lalu dan telah disetujui parlemen Suriah. Pinjaman ini disepakati oleh kedua bank negara yakni Bank Komersial Suriah dan Bank Pembangunan Ekspor Iran.
Dana pinjaman ini akan digunakan untuk membantu Suriah dalam mengimpor barang-barang kebutuhannya dan mendanai proyek-proyek pemerintah. Demikian disampaikan kantor berita Suriah, SANA dan dilansir CNN, Kamis (9/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bantuan keuangan Iran menjadi faktor penting perekonomian dan pemerintahan Suriah. Seperti dilansir Reuters, Suriah juga menerima pinjaman dana sebesar US$ 3,6 miliar (Rp 47,9 triliun) dari Iran pada Juli 2013 lalu, yang sebagian besar digunakan untuk impor minyak.
Perekonomian Suriah semakin memburuk dengan menipisnya cadangan asing yang diperkirakan mencapai US$ 16 miliar hingga US$ 18 miliar sebelum konflik pecah. Negara ini mendapatkan pemasukan US$ 2,5 miliar setiap tahunnya dari ekspor minyak sebelum konflik terjadi pada tahun 2011 lalu.
Iran diyakini telah mengirimkan puluhan penasihat militernya ke Suriah. Presiden Iran Hassan Rouhani bahkan pernah menyatakan bahwa Iran akan terus mendukung rezim Presiden Assad hingga akhir. Beberapa tokoh militer senior Iran dilaporkan tewas dalam pertempuran di Suriah, beberapa bulan terakhir. (nvc/ita)











































