Najib: Saya Tak Pernah Terima Dana Untuk Keuntungan Pribadi

Tuduhan Korupsi Rp 9 T

Najib: Saya Tak Pernah Terima Dana Untuk Keuntungan Pribadi

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 09 Jul 2015 11:24 WIB
Najib: Saya Tak Pernah Terima Dana Untuk Keuntungan Pribadi
Najib Razak (Reuters)
Kuala Lumpur, - Tuduhan korupsi senilai Rp 9 triliun mendera Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak. Namun Razak kembali menegaskan, dirinya tak pernah mengambil dana dari perusahaan investasi milik negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB) untuk keuntungan pribadi.

Dalam postingan di blognya seperti dilansir New Straits Times, Kamis (9/7/2015), Najib menyatakan tuduhan korupsi tersebut merupakan bagian dari kampanye terpadu untuk menggulingkan PM yang terpilih secara demokratis.

"Saya ingin menekankan kembali bahwa saya tak pernah menerima dana 1MDB untuk keuntungan pribadi," tulis Najib di blognya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tuduhan oleh Wall Street Journal (WSJ) dibuat dengan niat buruk dan didukung oleh pihak-pihak tertentu di negara ini yang ingin memaksakan pengunduran diri saya sebagai perdana menteri dan presiden Umno," tulis Najib.

Najib juga mengkonfirmasi bahwa dirinya telah memerintahkan para pengacaranya untuk mengirimkan surat kepada WSJ guna meminta klarifikasi atas pemberitaan media tersebut.

"Pengacara saya akan mengambil tindakan lebih jauh setelah menerima klarifikasi dari surat kabar itu," tegas Najib.

Dalam pemberitaannya pada Jumat, 3 Juli, WSJ menuliskan tentang hasil penyelidikan atas aliran dana lembaga investasi 1 Malaysia Development Berhad (1MDB). Dalam laporannya, WSJ menulis bahwa sebanyak US$ 700 juta atau sekitar Rp 9,3 triliun dana 1MDB, mengalir ke rekening pribadi Najib.

Masih dalam laporan yang sama, WSJ menyebut ada lima deposito di dalam rekening Najib dengan dua transaksi terbesar senilai US$ 620 juta atau Rp 8,2 triliun dan US$ 61 juta atau sekitar Rp 812 miliar. Transaksi tercatat dilakukan pada Maret 2013 selama kampanye pemilu di Malaysia.

1MDB atau 1Malaysia Development Berhad menjadi sorotan setelah mengalami defisit hingga US$ 11 miliar. Tudingan penggelapan serta sejumlah besar uang negara yang hilang misterius juga mewarnai 1MDB. PM Najib yang menjabat pemimpin dewan penasihat 1MDB, dianggap bertanggung jawab. (ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini