Hal ini disimpulkan dari hasil studi yang dimuat dalam jurnal PLOS ONE seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (3/7/2015).
Dalam studi ini, para ilmuwan menelaah data dari 1998 hingga 2013 mengenai penembakan di sekolah dan pembunuhan massal lainnya di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kira-kira 20 hingga 30 persen dari tragedi seperti itu tampaknya muncul dari penularan," demikian disampaikan.
Disebutkan bahwa risiko terulangnya penembakan bersifat temporer dan tampaknya mereda setelah melewati waktu dua minggu.
Β
Hasil-hasil riset sebelumnya menunjukkan, bunuh diri bisa menular di kalangan kaum muda, khususnya ketika detail metode bunuh diri yang digunakan menyebar luas.
Dalam studi ini disebutkan, pembunuhan massal dengan senjata api rata-rata terjadi setiap dua pekan di AS. Dan penembakan di sekolah cenderung terjadi sekitar sekali dalam sebulan.
Disebutkan bahwa negara-negara bagian dengan tingkat kepemilikan senjata api yang tinggi, jauh lebih mungkin untuk memiliki tingkat pembunuhan massal yang lebih tinggi. (ita/ita)











































