Dilaporkan organisasi pemantau HAM di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters, Kamis (2/7/2015), ISIS mengirim lebih banyak anggotanya dari Raqqa ke medan pertempuran di wilayah lainnya di Suriah. Observatory mengutip keterangan para aktivis di lapangan.
Menurut Observatory, pengerahan ini berdampak pada berkurangnya anggota untuk berpatroli di Raqqa. ISIS memiliki polisi syariat sendiri di setiap wilayah yang dikuasai dan diklaim sebagai wilayahnya. Raqqa menjadi ibukota de fakto bagi Daulah Islamiyah yang didirikan ISIS di Suriah dan Irak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Observatory, Rami Abdulrahman menuturkan, ISIS juga khawatir jika penduduk Raqqa memberitahu lokasi tokoh-tokoh penting dan markas ISIS kepada koalisi AS yang terus membombardir posisi-posisi ISIS dari udara.
Ditambah lagi, beberapa waktu terakhir, ISIS mendapat tekanan dari pasukan Kurdi dan pemberontak Suriah di wilayah utara negara tersebut. Pada Rabu (1/7), pasukan Kurdi berhasil merebut kota di dekat perbatasan Turki dari tangan ISIS.
Di Raqqa, ISIS memberlakukan aturan ketat berdasarkan interpretasi mereka atas syariat Islam. Mereka mengendalikan komunikasi publik dan mengelola seluruh layanan publik seperti listrik, air, gaji, pengaturan lalu lintas dan nyaris semua hal kecil mulai dari toko roti hingga sekolah. Area-area yang menjadi tempat tinggal tokoh senior ISIS di Raqqa mendapat aliran listrik, sedangkan area lain diputus alirannya. (nvc/ita)










































