38 Korban Tewas Pembantaian di Tunisia Sudah Teridentifikasi

38 Korban Tewas Pembantaian di Tunisia Sudah Teridentifikasi

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 02 Jul 2015 10:54 WIB
38 Korban Tewas Pembantaian di Tunisia Sudah Teridentifikasi
Reuters
Tunis - Sebanyak 38 korban tewas dalam penembakan brutal di hotel Tunisia berhasil diidentifikasi. Seluruhnya merupakan warga negara asing dengan jumlah korban terbanyak dari Inggris, yakni mencapai 30 orang.

"Seluruh jasad korban telah diidentifikasi. Di antara mereka terdapat 30 warga Inggris," terang Direktur Urusan Darurat pada Kementerian Kesehatan Tunisia, Naoufel Somrani seperti dilansir AFP, Kamis (2/7/2015).

Sedangkan delapan korban tewas lainnya terdiri atas tiga warga Irlandia, dua warga Jerman, dan masing-masing satu warga Belgia, Portugal dan Rusia.

Pelaku penembakan diidentifikasi sebagai mahasiswa 23 tahun bernama Saifeddine Rezgui. Dengan senapan Kalashnikov, Rezgui menembaki orang-orang yang sedang bersantai di pantai dan kolam renang hotel bintang lima Riu Imperial Marhaba di Port El Kantaoui pada Jumat (26/6) lalu.

Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan Tunisia menyebut 8 jasad korban asal Inggris diterbangkan pulang ke negara asalnya pada Rabu (1/7) waktu setempat. Tiga jasad asal Irlandia juga dipulangkan pada Rabu (1/7).

Pemulangan jasad korban lainnya akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.

Jumlah korban tewas dalam penembakan brutal di Tunisia merupakan jumah yang terbesar bagi Inggris, dalam serangan teror sejak pengeboman di London pada Juli 2005 lalu. Perdana Menteri David Cameron menjanjikan penyelidikan menyeluruh terhadap insiden ini. Kepolisian Inggris mengirimkan ahli forensik ke Tunisia untuk membantu otoritas setempat menyelidiki serangan ini.

Sementara itu, sebanyak 25 turis Inggris yang mengalami luka-luka dalam penembakan ini telah dipulangkan ke negara asalnya. Atas peristiwa ini, sekitar 4 ribu turis lainnya ramai-ramai meninggalkan Tunisia pada akhir pekan lalu. Diperkirakan masih ada 1.900 turis lainnya yang hendak kembali ke negara masing-masing dalam beberapa hari ke depan. (nvc/ita)


Berita Terkait