Pelaku yang diidentifikasi sebagai Yassin Salhi (35) telah mengakui kejahatan yang dilakukannya. Namun dia bersikeras dirinya dimotivasi oleh alasan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan motif agama, meski aksi keji Salhi disebut-sebut menunjukkan aksi jihad radikal.
"Satu hal tidak menggugurkan hal lainnya dan pilihan untuk membunuh seseorang yang membuatnya dendam tidak mengesampingkan motif terorisme," tutur ketua jaksa Paris, Francois Molins seperti dilansir AFP, Rabu (1/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggerebekan polisi terhadap orang dekat Yusin berujung pada temuan percakapan Whatsapp pada hari kejadian, Jumat (26/6), saat Yunis mengaku mengenal Salhi dan mengetahui salah satu alasan Salhi melakukan aksi keji itu. Bahkan Yunis juga menyebut dirinya meminta izin ISIS untuk menyebarkan foto dari Salhi.
Kepada Yunis, Salhi mengirimkan dua foto aksi kejahatannya, yakni satu foto selfie bersama potongan kepala dan satu foto potongan tubuh korban dibungkus bendera militan dengan potongan kepala diletakkan di dada korban, dengan telepon genggamnya.
Jaksa Molins menyebut Salhi pernah menghabiskan waktu selama 1 tahun di Suriah pada tahun 2009 lalu, bersama istri dan anak-anaknya. Namun Salhi mengklaim dirinya hanya belajar bahasa Arab di sana.
Salhi sudah lama berada di bawah pengawasan intelijen Prancis atas pandangannya yang radikal. Dia secara resmi dijerat dakwaan pembunuhan dan dakwaan terkait kelompok terorisme pada Selasa (30/6) waktu setempat. Salhi sempat menolak berbicara untuk 24 jam awal setelah ditahan, sebelum akhirnya bersedia buka suara. Dia awalnya mengaku mengalami amnesia dan tidak ingat insiden keji yang dilakukannya. (nvc/ita)











































