Jaksa Pastikan Ada Kaitan ISIS dalam Serangan Brutal Prancis

Jaksa Pastikan Ada Kaitan ISIS dalam Serangan Brutal Prancis

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 01 Jul 2015 09:58 WIB
Jaksa Pastikan Ada Kaitan ISIS dalam Serangan Brutal Prancis
Pelaku serangan brutal di Prancis dikawal polisi (Reuters)
Paris - Jaksa Prancis mengkonfirmasi pelaku serangan brutal yang memenggal korbannya, memiliki motif terorisme. Disebutkan juga bahwa pelaku memiliki kaitan dengan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Pelaku yang diidentifikasi sebagai Yassin Salhi (35) telah mengakui kejahatan yang dilakukannya. NamunΒ  dia bersikeras dirinya dimotivasi oleh alasan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan motif agama, meski aksi keji Salhi disebut-sebut menunjukkan aksi jihad radikal.

"Satu hal tidak menggugurkan hal lainnya dan pilihan untuk membunuh seseorang yang membuatnya dendam tidak mengesampingkan motif terorisme," tutur ketua jaksa Paris, Francois Molins seperti dilansir AFP, Rabu (1/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jaksa Molins menekankan pada beberapa fakta yang terungkap dalam penyelidikan, termasuk keterkaitan Salhi dengan pelaku jihad asal Prancis yang kini ada di Suriah, Sebastian Yunis (30). Penyelidikan menunjukkan Salhi rutin berkomunikasi dengan Yunis yang pergi ke Suriah pada November 2014.

Penggerebekan polisi terhadap orang dekat Yusin berujung pada temuan percakapan Whatsapp pada hari kejadian, Jumat (26/6), saat Yunis mengaku mengenal Salhi dan mengetahui salah satu alasan Salhi melakukan aksi keji itu. Bahkan Yunis juga menyebut dirinya meminta izin ISIS untuk menyebarkan foto dari Salhi.

Kepada Yunis, Salhi mengirimkan dua foto aksi kejahatannya, yakni satu foto selfie bersama potongan kepala dan satu foto potongan tubuh korban dibungkus bendera militan dengan potongan kepala diletakkan di dada korban, dengan telepon genggamnya.

Jaksa Molins menyebut Salhi pernah menghabiskan waktu selama 1 tahun di Suriah pada tahun 2009 lalu, bersama istri dan anak-anaknya. Namun Salhi mengklaim dirinya hanya belajar bahasa Arab di sana.

Salhi sudah lama berada di bawah pengawasan intelijen Prancis atas pandangannya yang radikal. Dia secara resmi dijerat dakwaan pembunuhan dan dakwaan terkait kelompok terorisme pada Selasa (30/6) waktu setempat. Salhi sempat menolak berbicara untuk 24 jam awal setelah ditahan, sebelum akhirnya bersedia buka suara. Dia awalnya mengaku mengalami amnesia dan tidak ingat insiden keji yang dilakukannya. (nvc/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads