Sumber yang memahami penyelidikan kasus ini menuturkan, pelaku Yassin salhi (35) mengaku kepada polisi bahwa dirinya bukan seorang pelaku jihad. Salhi juga berulang kali menegaskan bahwa aksi kejinya dilakukan setelah dirinya terlibat pertengkaran dengan dengan istrinya dan juga atasannya. Demikian seperti dilansir Reuters, Selasa (30/6/2015).
Salhi ditangkap di lokasi kejadian di pinggiran Lyon, kota terbesar kedua di Prancis pada Jumat (26/6) waktu setempat. Untuk 96 jam ke depan, Salhi berada dalam penahanan otoritas Prancis sesuai dengan undang-undang yang berlaku, sebelum dia diadili.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pemeriksaan terhadap salah satu telepon genggam Salhi mengungkapkan adanya foto selfi Salhi dengan potongan kepala korban. Bahkan Salhi sempat mengirimkan foto ini ke seorang warga negara Prancis, yang lokasinya dideteksi ada di Raqqa, Suriah yang dikuasai ISIS.
Dalam pernyataannya, otoritas Prancis menyebut Salhi pernah diselidiki terkait radikalisme dan keterlibatannya dengan gerakan Salafi. Antara tahun 2006 hingga 2008, Salhi berada dalam pengawasan intelijen Prancis karena dikhawatirkan menjadi korban radikalisasi. Kendati demikian, Salhi tidak pernah terlibat langsung dengan aktivitas terorisme. Dia juga bersih dari catatan kriminal.
Media setempat mengutip keterangan orang-orang yang mengenal Salhi soal tidak stabilnya karakter ayah dari tiga anak tersebut. Menurut mantan instruktur bela diri Salhi, pria berusia 35 tahun itu mudah terpancing emosi dan cenderung melakukan kekerasan ketika marah.
Serangan brutal yang dilakukan Salhi ini memicu kekhawatiran warga Prancis atas serangan lainnya. Serangan ini terjadi kurang dari 6 bulan setelah tragedi penembakan brutal di kantor majalah satire Charlie Hebdo dan supermarket Yahudi di Paris pada Januari lalu. (nvc/ita)











































