Organisasi HAM, Amnesty International mencetuskan, pemerintah Mesir di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fattah al-Sisi "melakukan upaya terang-terangan untuk menghancurkan setiap ancaman terhadap kekuasaan mereka".
"Aksi protes massal telah digantikan dengan penangkapan massal," ujar Amnesty dalam statemen menjelang peringatan dua tahun tergulingnya Morsi pada 3 Juli mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty membantah otoritas Mesir telah menargetkan para aktivis muda dalam operasi terhadap para pembangkang. Menurut Abdelatty, Amnesty kehilangan kredibilitasnya dengan bergantung pada sumber-sumber yang tak bisa dipercaya untuk informasi tersebut.
Amnesty juga menyatakan, lebih dari 41 ribu orang di Mesir telah ditangkap, didakwa dengan tindak kejahatan atau dihukum dalam persidangan yang tak adil. Namun Abdelatty mengatakan, angka itu sama sekali tak benar.
"Dan itu menimbulkan pertanyaan akan niat sebenarnya dan motif sebenarnya dari organisasi ini," cetusnya.
Dalam laporannya, Amnesty menyebutkan kasus Mahmoud Mohamed Ahmed Hussein, yang mengaku berumur 18 tahun saat ditangkap dalam perjalanan pulang ke rumahnya usai mengikuti aksi demo.
"Menurut keluarga dan pengacaranya, dia disiksa agar mengakui aktivitas terkait terorisme. Dia berulang tahun ke-19 di penjara dan kini telah menghabiskan waktu lebih dari 500 hari tanpa dakwaan atau pengadilan," demikian disampaikan Amnesty.
Amnesty juga mengkritik sekutu-sekutu Mesir dari Barat atas hubungan mereka dengan rezim al-Sisi. "Kemunafikan mitra-mitra Mesir telah ditunjukkan demi perjanjian bisnis yang menggiurkan, pengaruh politis dan intelijen, serta penjualan-penjualan baru," tandas Amnesty. (ita/ita)











































