Seperti dilansir Reuters, Senin (29/6/2015), beberapa hari sebelum pembantaian di hotel Imperial Marhaba, Sousse, Rezgui beraktivitas normal dengan teman-temannya. Pada Rabu (24/6), Rezgui nongkrong bersama teman-temannya dan mengobrol soal tim sepak bola kesukaannya maupun soal breakdance sambil minum kopi dan merokok.
Pada Kamis (25/6), atau sehari sebelum kejadian, Rezgui menemui pamannya di Gaafur untuk membahas urusan keluarga. Rezgui diketahui sedang cuti kuliah masternya di Kairouan, dekat kawasan pantai Sousse yang menjadi lokasi kejadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam 5 menit, Rezgui terus menembak secara brutal hingga 38 orang tewas. Sebagian besar korban tewas merupakan warga asing yang sedang berlibur di Tunisia. Bahkan saksi mata menyebut pelaku tersenyum lebar saat menembaki orang-orang di pantai. Rezgui akhirnya tewas ditembak polisi usai beraksi.
Penembakan brutal ini mengejutkan publik Tunisia. Di Gaafour, kampung halaman Rezgui, tetangga dan keluarganya sulit memahami bagaimana pemuda kesayangan mereka menjadi pembunuh sadis. Rezgui sama sekali tidak memberikan pertanda kepada keluarga maupun temannya soal ideologi radikalnya.
Tetangga dan teman-temannya mengenal Rezgui sebagai sosok yang riang dan banyak bicara. Dia juga tergolong rajin salat, namun tidak pernah membahas soal masalah agama kepada keluarga maupun temannya. Dia kuliah di kota lain, Kairouan, namun sering pulang ke rumah.
"Dia tidak menunjukkan tanda-tanda ekstremisme atau apapun. Dia tidak pernah bicara soal agama. Sangat mengejutkan melihat seseorang, seorang teman yang sering menghabiskan banyak waktu bersama Anda, menjadi pembunuh," ucap salah satu teman Rezgui, Mohammed.
"Sulit dipercaya. Saya tidak bisa memahaminya. Ketika saya melihat fotonya dengan Kalashnikov, saya hanya terus berpikir bagaimana kami selalu bersama," tutur teman Rezgui lainnya, Ahmed yang satu kelompok breakdance. (nvc/ita)











































