Dengan adanya insiden ini, seperti dilansir Reuters, Senin (29/6/2015), untuk sementara AS bergantung pada Rusia dan Jepang dalam pengiriman suplai. NASA sebenarnya masih memiliki satu lagi kargo luar angkasa bernama Orbital ATK. Namun kargo itu masih diistirahatkan setelah mengalami insiden pada Oktober 2014 lalu.
Selain kapal kargo Dragon yang meledak pada Minggu (28/6) waktu setempat, masih ada tiga kapal kargo luar angkasa lainnya yang bisa mengirimkan suplai ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Namun kemampuannya tidak secanggih Dragon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Rusia menjadwalkan peluncuran roket Soyuz yang akan membawa Progress ke orbit luar angkasa pada Jumat (3/7) mendatang. Sedangkan Jepang akan meluncurkan kargo luar angkasanya HTV pada Agustus mendatang. Setelah itu, satu roket SpaceX lainnya dijadwalkan akan diluncurkan ke luar angkasa pada September mendatang. Selanjutnya, NASA akan mencoba kembali untuk meluncurkan Orbital ATK ke ISS pada akhir tahun ini.
Juru bicara NASA, Stephanie Schierholz seperti dilansir The Washington Post, menuturkan sedikitnya masih ada delapan jadwal pengiriman suplai lainnya ke ISS sepanjang tahun ini. "Jadi, ada banyak cara untuk memastikan stasiun (ISS-red) mendapat suplai dengan baik," tuturnya.
Dragon yang menempel pada roket Falcon 9 yang dibuat oleh SpaceX atau Space Exploration Technologies, meledak selang 2 menit setelah diluncurkan ke luar angkasa pada Minggu (28/6) waktu setempat, dari pusat luar angkasa Cape Carnaveral, Florida, AS. Dragon mengangkut 2.477 kilogram persediaan makanan, pakaian dan perlengkapan penelitian untuk ISS yang mengudara sejauh 420 kilometer dari permukaan bumi. (nvc/ita)











































