Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby menyebut ketiga serangan ini masih diselidiki lebih lanjut. Sejauh ini, belum ada indikasi keterkaitan maupun dugaan koordinasi dalam tiga serangan terpisah ini.
"Tidak ada indikasi dalam level taktis, bahwa serangan ini terkoordinasi," ucap John Kirby seperti dilansir Reuters, Sabtu (27/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penembakan brutal di hotel Imperial Marhaba, Tunisia menewaskan 38 orang. Pelaku yang seorang mahasiswa setempat berusia 23 tahun, Saifeddine Rezgui tewas ditembak polisi. Sedangkan serangan bom bunuh diri di masjid Syiah, Imam al-Sadeq di Kuwait menewaskan 27 orang dan melukai 227 orang lainnya. Serangan terjadi saat salat Jumat dan pelaku ikut salat bersama jamaah lainnya, sebelum meledakkan diri.
Dua serangan di Tunisia dan Kuwait telah diklaim oleh ISIS. Dalam pernyataannya, ISIS menyebut pelaku penembakan di Tunisia sebagai anggotanya yang bernama Abu Yihya al-Kairouni. Sedangkan untuk serangan di Kuwait, ISIS mengklaim pelakunya merupakan anggotanya, Abu Suleiman al-Muwahhid.
Satu serangan brutal lain di pinggiran Prancis merenggut satu nyawa, yang tewas dipenggal oleh pelaku di pabrik gas milik perusahaan AS di kota Saint-Quentin-Fallavier. Polisi Prancis menangkap pelaku tunggal dalam serangan ini, Yassin Salhi yang sempat diselidiki polisi Prancis atas kecurigaan radikalisasi dan keterkaitan dengan gerakan Salafi. Namun Salhi tidak pernah terlibat aktivitas terorisme secara konkret.
Ketiga serangan itu terjadi saat bulan suci Ramadan. Sebelumnya, ISIS dalam pernyataannya pernah menyerukan kepada simpatisan maupun pendukungnya untuk meningkatkan serangan saat Ramadan. Dugaan keterkaitan pun muncul, meskipun hingga kini belum bisa dipastikan.
"Saya tidak yakin penyidik sampai pada tahap bahwa mereka tahu persis apa yang memotivasi masing-masing serangan ini dan seberapa jauh momen Ramadan ini menjadi salah satu faktornya. Terlalu dini untuk dibahas sekarang," tegas Kirby. (nvc/gah)











































