Seperti dilansir AFP, Sabtu (27/6/2015), Gedung Putih Amerika Serikat telah menyatakan kecamannya dan bersumpah akan memerangi terorisme. AS juga menyampaikan duka cita serta menawarkan bantuan apapun yang diperlukan kepada tiga negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Sekjen PBB Ban Ki-moon mengecam serangan mengerikan yang terjadi di tiga negara tersebut. "Mengecam keras serangan teroris di Tunisia, Kuwait dan Prancis," demikian pernyataan Sekjen Ban melalui juru bicaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara juga menyatakan kecaman terhadap serangan di tiga negara tersebut dan menekankan perlunya membawa pelaku serangan ke pengadilan.
Pemimpin negara-negara Eropa ramai-ramai mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan keji. Mereka juga bersumpah menjaga kesatuan dalam melawan kebiadaban teroris.
Presiden Prancis Francois Hollande bersama Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi menyatakan solidaritas mereka dalam melawan momok terorisme. Sedangkan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy merupakan salah satu pihak yang paling pertama bereaksi atas serangan di Prancis.
"Kebiadaban akan selalu dilawan oleh persatuan di antara kaum demokrat," tuturnya via Twitter.
Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut serangan ini menunjukkan tantangan yang akan dihadapi dalam perjuangan melawan terorisme dan ekstremisme. Sedangkan Perdana Menteri Inggris David Cameron menyebut serangan ini sebagai buah dari 'ideologi yang sesat'.
Perdana Menteri Kanada Stephen Harper menyatakan kesedihannya dan merasa marah mengetahui serangan-serangan yang merenggut banyak korban jiwa ini. Pemerintah Argentina, Meksiko dan Brasil juga ikut mengecam serangan ini.
Sedikitnya 1 orang tewas dipenggal dalam serangan terorisme sadis di pabrik gas milik AS di Prancis. Sedangkan 39 orang lainnya tewas dalam aksi penembakan di sebuah hotel di kawasan wisata pantai Tunisia. Lalu serangan bom bunuh diri di masjid Syiah Kuwait menewaskan 27 orang dan melukai 227 orang lainnya. Dua serangan terakhir diklaim dilakukan oleh militan radikal ISIS. (nvc/gah)











































