Prancis dikenal sebagai negara dengan populasi warga muslim terbesar di kawasan Eropa Barat. Situasi ini, menurut PM Valls, akan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Sangat sulit bagi sebuah masyarakat untuk hidup selama bertahun-tahun di bawah ancaman serangan," ucap PM Valls dalam penerbangan sepulangnya dari Bogota, Kolombia seperti dilansir AFP, Sabtu (27/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan brutal di kota Saint-Quentin-Fallavier pada Jumat (26/6) merupakan serangan pertama di Prancis di mana korban tewas dipenggal. Metode pembunuhan yang sama biasa dilakukan oleh militan radikal ISIS di Irak dan Suriah.
Namun sejauh ini belum ada klaim dari pihak maupun kelompok tertentu yang mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Si pelaku sendiri, Yassin Salhi masuk dalam radar intelijen Prancis karena pernah diselidiki atas kecurigaan radikalisasi dan keterkaitan dengan pergerakan Salafi.
Selain itu, Salhi sama sekali tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan dikenal sebagai orang yang biasa saja meskipun cenderung misterius.
Dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan Uni Eropa di Brussels, Belgia, Presiden Francois Hollande dengan tegas menyebut serangan brutal yang diwarnai pemenggalan dan ledakan ini sebagai aksi terorisme. Presiden Hollande juga memerintahkan peningkatkan keamanan di wilayah Prancis pasca serangan yang menewaskan satu orang ini.
Serangan brutal ini terjadi selang enam bulan setelah serangkaian serangan teror yang melanda Prancis dan menewakan total 17 orang, termasuk penembakan di kantor majalah satire Charlie Hebdo pada Januari lalu. (nvc/ita)











































