"Dia (Salhi-red) pernah diselidiki pada tahun 2006 atas radikalisasi, tapi penyelidikannya tidak diperbarui hingga tahun 2008. Dia tidak memiliki catatan kriminal," terang Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve seperti dilansir AFP, Sabtu (27/6/2015).
Otoritas setempat mengetahui Salhi dan keluarganya tinggal berpindah-pindah. Bersama istri dan tiga anaknya, Salhi pernah tinggal di kota Besancon, Prancis bagian timur. Akhir tahun 2014, Salhi dan keluarga pindah di apartemen sederhana di Saint-Priest, wilayah pinggiran Prancis yang tenang di Lyon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, lanjut Cazeneuve, Salhi selalu ada dalam radar otoritas intelijen Prancis. Salafi merupakan cabang aliran Sunni yang dikenal bersifat ekstremis dan puritan. Salhi lahir di kota Pontarlier, Prancis dekat perbatasan Swiss dari seorang ayah keturunan Algeria dan ibu asal Maroko.
Salhi kembali menjadi perhatian intelijen Prancis pada tahun 2013 karena masih bergaul dengan orang-orang yang dicurigai terlihat kelompok radikal Islam. Pada saat itu, Salhi mulai menumbuhkan jenggot dan mengenakan jubah tradisional ala Afrika Utara yang disebut djellaba.
Namun terlepas dari penampilannya, sebut seorang sumber intelijen setempat, tidak ada hal konkret lainnya yang mengindikasikan dia berbahaya bagi keamanan nasional Prancis. (nvc/gah)










































