Yassin Salhi, Sopir Pengantar Barang Pelaku Serangan di Prancis

Yassin Salhi, Sopir Pengantar Barang Pelaku Serangan di Prancis

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2015 10:43 WIB
Yassin Salhi, Sopir Pengantar Barang Pelaku Serangan di Prancis
Lokasi serangan brutal di Prancis (Reuters)
Paris - Otoritas Prancis memastikan hanya ada satu pelaku dalam serangan brutal di kawasan industri setempat. Satu-satunya pelaku ini diidentifikasi sebagai seorang pria bernama Yassin Salhi yang bekerja sebagai sopir pengantar barang.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (27/6/2015), Salhi dikenal sebagai pria pendiam dan memiliki kehidupan normal seperti warga lain pada umumnya. Namun salah satu rekan kerjanya menyebut sosok Salhi cenderung misterius.

"Dia (Salhi-red) seperti serigala berbulu domba," terang rekan kerja Salhi, Abdel Karim kepada radio RTL.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia pernah berbicara dengan saya soal Daesh (nama Arab dari ISIS). Dia tidak mendoktrin saya tentang apapun, tapi hanya bertanya soal pendapat saya. Ketika saya memberitahunya soal pemikiran saya, sejak saat itu, selamat tinggal," imbuhnya.

Salhi yang berusia 35 tahun ini dikenal sebagai seorang ayah dari tiga anak. Sejak awal tahun ini, diketahui dia bekerja sebagai sopir pada perusahaan pengantar barang setempat.

Salhi diamankan oleh seorang pemadam kebakaran lokal yang bergegas ke lokasi kejadian di sebuah pabrik gas milik perusahaan milik Amerika Serikat, Air Products di kota Saint-Quentin-Fallavier, pinggiran Prancis pada Jumat (26/6) waktu setempat. Satu jasad terpenggal ditemukan di lokasi kejadian.

Ada tiga orang lainnya yang juga ditahan kepolisian terkait kasus ini. Mereka ada istri Salhi, saudara perempuan Salhi dan seorang pria yang diselidiki terkait dakwaan terorisme. Salhi sendiri dijerat dakwaan pembunuhan dan terorisme.

Dalam wawancara dengan sebuah radio Prancis, Europe 1, seorang wanita yang diidentifikasi sebagai istri Salhi mengaku terkejut atas tudingan terhadap suaminya. "Dalam berita mereka menyebut ini serangan teroris, tapi itu mustahil. Saya mengenalnya, dia suami saya. Kami memiliki kehidupan yang normal," ucap wanita yang enggan disebut namanya ini.

"Jantung saya akan berhenti. Dia berangkat kerja pagi ini (26/6) pukul 07.00 waktu setempat. Kami warga muslim biasa, kami menjalankan Ramadan. Normal. Kami memiliki tiga anak, keluarga yang normal," tandasnya. (nvc/gah)


Berita Terkait