Seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (25/6/2015), Dzhokhar berhadapan langsung dengan korban selamat dan keluarga korban di pengadilan federal setempat. Dia hanya duduk terdiam sambil menundukkan kepala, ketika korban selamat menceritakan kembali tragedi yang terjadi pada 15 April 2013 lalu.
"Sekarang, saya ingin minta maaf kepada korban tewas dan juga korban selamat," ucap Dzhokhar dalam aksen Rusia yang kental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika ada keraguan, saya memang bersalah atas serangan ini, bersama kakak laki-laki saya," imbuhnya, menyebut kakaknya Tamerlan Tsarnaev yang tewas ditembak polisi dalam pengejaran.
Salah satu korban selamat Rebekah Gregory yang kehilangan kaki kirinya dalam tragedi itu, berbicara langsung kepada Tsarnaev dalam persidangan. "Teroris seperti Anda melakukan dua hal di dunia ini. Pertama, mereka menciptakan kehancuran massal, tapi hal kedua cukup menarik," sebutnya.
"Karena apakah Anda tahu dampak sebenarnya dari kehancuran massal? Yakni menyatukan orang-orang. Kami sebagai warga Boston semakin kuat dan kami sebagai warga Amerika semakin kuat, dan membuat masalah dengan kami adalah ide yang buruk," imbuh Gregory.
Tidak lupa, Dzhokhar juga memohon ampun untuk dirinya dan kakaknya. "Saya meminta Allah untuk mengampuni saya, kakak saya dan keluarga saya. Saya meminta Allah untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada semua yang hadir di sini hari ini," tandasnya.
(nvc/ita)











































