Wartawan investigasi yang menyamar untuk kelompok aktivis setempat, Sound And Picture di Shaddadi, Suriah mengungkapkan bahwa ISIS kini melakukan pemeriksaan secara menyeluruh atas semua darah yang akan didonorkan kepada anggotanya yang luka-luka. Demikian seperti dilansir Daily Mail, Rabu (24/6/2015).
Secara terpisah, kelompok aktivis Suriah, Raqqa is Being Slaughtered Silently mengungkapkan, pusat perawatan AIDS juga dibangun di kota Almayadeen, Suriah yang dikuasai ISIS sebagai dampak atas kepanikan penularan AIDS ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kota Almayadeen tidak memiliki pusat pemeriksaan AIDS sebelumnya. Namun setelah dikuasai IS (ISIS), mereka membawa material dan perlengkapan dari Irak ke Suriah, dan mereka juga menekankan perlunya pemeriksaan setiap tetes darah yang didonorkan ke anggota IS," terang dokter tersebut.
Kepanikan ini berawal ketika seorang anggota ISIS asal Mesir (30) yang telah menerima donor darah dari WNI tersebut, dipastikan terdiagnosa HIV/AIDS. Begitu pula dengan gadis Yazidi berumur 15 tahun yang menjadi budak seks anggota ISIS itu.
"Anggota ISIS dibawa ke pusat (perawatan) ini, seorang pria berusia 30 tahun yang berbicara dengan aksen Mesir, bersama seorang remaja perempuan berusia 15 tahun yang sangat ketakutan dan pucat. Hasil tesnya positif AIDS," tutur dokter ini.
Hasil penelusuran ISIS menemukan bahwa sumber penularan berasal dari seorang anggota ISIS asal Indonesia. Pria WNI yang tidak disebut identitasnya ini menyadari dirinya terinfeksi AIDS sebelum bergabung ISIS pada September 2014 lalu. Dalam kasus ini, si WNI diadili dan dijatuhi vonis mati oleh pengadilan ISIS karena secara sengaja membahayakan anggota ISIS lainnya dengan mendonorkan darahnya kepada anggota yang luka-luka. (nvc/ita)











































