Daging Selundupan Senilai Rp 6,4 T Disita Bea Cukai China

Daging Selundupan Senilai Rp 6,4 T Disita Bea Cukai China

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 24 Jun 2015 16:45 WIB
Daging Selundupan Senilai Rp 6,4 T Disita Bea Cukai China
Ilustrasi (ebcitizen.com)
Beijing - Otoritas bea cukai China menyita daging selundupan senilai 3 miliar yuan atau setara Rp 6,4 triliun. Sejumlah daging yang disita bahkan ada yang berumur lebih dari 40 tahun dan telah membusuk.

Sejak April lalu, otoritas China semakin memperketat aturan keselamatan pangan demi menghilangkan reputasi skandal keamanan makanan yang kerap melanda negara ini. Mulai dari daging keledai yang terkontaminasi daging rubah, hingga susu yang terkontamiansi zat kimia industri, melamin yang menewaskan 6 bayi pada tahun 2008 lalu. Baru-baru ini, otoritas China meluncurkan operasi melawan penyelundupan daging beku dan daging sapi.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (24/6/2015), operasi ini berujung pada penangkapan 21 geng kriminal sepanjang Juni ini. Sedangkan lebih dari 100 ribu ton daging selundupan, termasuk sayap ayam, daging sapi maupun babi, berhasil disita. Dalam satu operasi penggerebekan di Provinsi Hunan, dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua, polisi berhasil menangkap 20 tersangka sekaligus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Otoritas bea cukai menemukan beberapa daging yang disita ternyata sudah berumur lebih dari 40 tahun. Ini artinya daging ini berasal dari tahun 1970-an. Beberapa bagian daging bahkan sudah membusuk dan terurai. Tidak diketahui pasti apakah daging-daging yang disita itu telah dihancurkan.

"Sangat bau, dan saya nyaris muntah ketika membuka pintu," tutur pejabat bea cukai setempat, Zhang Tao kepada surat kabar China Daily.

Secara terpisah, sumber industri China menyebut ratusan ton daging sapi diselundupkan ke wilayah China melalui Hong Kong dan Vietnam. Daging-daging ini diselundupkan dari beberapa negara seperti Brasil dan India, demi menghindari pembatasan impor China.

Daging memang bisa bertahan lama jika terus dibekukan. Namun daging yang diselundupkan seringkali disimpan dalam kondisi buruk sehingga mengalami pencairan berulang kali dan kondisinya pun memburuk.

"Untuk menghemat biaya, para penyelundup sering menyewa kendaraan biasa, bukannya kendaraan berpendingin. Jadi daging ini mengalami pencairan berulang kali sebelum mencapai konsumen," terang pejabat antipenyelundupan di Changsha, Yang Bo. (nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini