Juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren menuturkan, Tariq bin al-Tahar bin al-Falih al-'Awni al-Harzi of Tunisia tewas dalam serangan udara AS di Mosul, Irak pada 15 Juni lalu. Departemen Keuangan AS dan Departemen Luar Negeri AS melabelinya sebagai teroris yang beroperasi untuk ISIS.
"Kematiannya menjadi degradasi bagi kemampuan ISIL (nama lain ISIS) untuk menyatukan pelaku jihad dari Afrika Utara dalam pertempuran di Suriah dan Irak dan menghilangkan pelaku jihad yang memiliki keterkaitan dengan terorisme internasional," ujar Kolonel Warren seperti dilansir AFP, Selasa (23/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, Harzi juga disebut terkait dengan militan afiliasi ISIS yang ada di Afrika Utara dan Timur Tengah. Departemen Keuangan AS menyebut Harzi sebagai anggota senior ISIS yang bertugas menggalang dana, juga merekrut dan memfasilitasi perjalanan pada anggota ISIS sejak tahun 2013.
Masih menurut Departemen Keuangan AS, Harzi merupakan salah satu anggota yang paling pertama bergabung dengan ISIS. Bahkan dia dijadikan 'emir' untuk wilayah perbatasan Suriah dan Turki, serta memfasilitasi perjalanan pelaku jihadis asal Eropa yang hendak ke Suriah via Turki.
Departemen Keuangan AS menyebut, Harzi mengatur penerimaan dana sebesar US$ 2 juta dari seorang penyandang dana yang berbasis di Qatar pada September 2013 lalu. Kemudian pada pertengahan tahun 2013, Harzi memimpin operasi asing ISIS dan memerintahkan beberapa anggota ISIS untuk merencanakan operasi menyerang komandan misi PBB di Libanon (UNFIL).
AS sempat menetapkan imbalan uang senilai US$ 3 juta (Rp 39 miliar) bagi informasi yang berujung pada penangkapan Harzi yang warga Tunisia ini. (nvc/ita)











































