Otoritas setempat pun menyatakan keadaan darurat seiring banyaknya jenazah di rumah sakit yang belum diambil keluarga mereka.
Menurut pejabat Kementerian Kesehatan, sebagian besar korban berjatuhan di Karachi. Suhu udara di kota itu mencapai 45 derajat celsius dalam beberapa hari terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyaknya jasad yang tidak diambil keluarga mereka, membuat pihak rumah sakit kewalahan. Pagi tadi saja, 30 jasad yang tidak diambil keluarganya, harus dikuburkan.
"Kami mendorong masyarakat untuk menguburkan keluarga mereka yang meninggal secepat mungkin mengingat gelombang panas ini dan buruknya kondisi listrik," ujar Anwar Kazmi, pejabat senior yayasan amal Edhi Foundation kepada Reuters, Senin (22/6/2015).
Di Propinsi Sindh, ratusan pasien serangan gelombang panas dirawat di rumah sakit pemerintah. Suhu tertinggi yang pernah melanda Karachi adalah 47 derajat celsius yang terjadi pada 1979.
Menurut Dr Semee Jamali, kepala unit darurat di Rumah Sakit Jinnah di Karachi, mayoritas korban meninggal adalah kaum lanjut usia.
"Pasien korban gelombang panas dibawa ke rumah sakit dengan kondisi demam tinggi, tidak sadarkan diri, dehidrasi, dan kejang-kejang," ujar Dr Semee Jamali.
Sebelumnya pada Mei lalu, gelombang panas serupa juga melanda India. Saat itu, hampir 1.700 orang meninggal akibat terpapar suhu udara yang rata-rata mencapai 48 derajat celsius.
(ita/ita)










































