"Kita kembali mengingat pagi ini tentang kematian yang sangat tiba-tiba seperti seorang pencuri di malam hari," ucap pendeta Norvel Goff kepada sekitar 400 jemaat di gereja itu seperti dilansir Reuters, Minggu (21/6/2015).
Hal itu disampaikan ketika upacara peringatan kepada para korban tewas dalam aksi penembakan brutal yang terjadi Rabu lalu. Suasana duka pun bertambah ketika para jemaat yang berdoa sembari menangis diiringi suara piano. Sementara di luar gereja, sebagian besar warga berkumpul mengekspresikan solidaritas mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sembilan orang tewas dalam aksi penembakan brutal di Gereja Emanuel AME pada Rabu (17/6) malam waktu setempat. Kepolisian setempat telah menyatakan insiden ini sebagai kejahatan karena kebencian. Gereja Emanuel AME merupakan salah satu gereja terbesar dan tertua bagi warga kulit hitam di wilayah tersebut. Gereja yang selesai dibangun pada tahun 1891 itu dianggap sebagai gedung yang sangat bersejarah.
Penembakan bermotif rasis ini mengingatkan pada pengeboman di gereja Afrika-Amerika di Birmingham, Alabama, yang menewaskan empat anak perempuan pada tahun 1960-an silam. (dhn/fdn)











































