Dengan bergandengan tangan, warga menyanyikan lagu "We Shall Overcome" sebagai respons atas penembakan bermotif kebencian rasial itu. Sebagian warga tampak menangis dalam acara itu.
"Semua orang, muda dan tua, semua warna kulit dan semua agama, semua latar belakang, semua lingkungan, semua lapisan masyarakat; kita punya satu kesamaan -- hati kita hancur," tutur Walikota Charleston Joseph P. Riley, Jr. dalam acara tersebut seperti dilansir NBC News, Sabtu (20/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita di sini untuk menyatakan dia sangat gagal," cetus Riley di depan ribuan warga yang hadir di gedung College of Charleston TD Arena.
"Dia gagal karena di dalam hati kita yang hancur, kita menyadari bahwa kita semakin menyayangi satu sama lain," imbuhnya.
Penembakan yang terjadi pada Rabu (17/6) malam waktu setempat itu, disebut sebagai serangan terburuk di tempat ibadah AS dalam kurun waktu 24 tahun. Kepolisian setempat menyatakan penembakan ini sebagai kejahatan karena kebencian bermotif rasial.
Gereja Emanuel African Methodist Episcopal Church merupakan salah satu gereja terbesar dan tertua bagi warga kulit hitam di wilayah tersebut. Gereja yang selesai dibangun pada tahun 1891 itu dianggap sebagai gedung yang sangat bersejarah. Penembakan ini mengingatkan pada pengeboman di gereja Afrika-Amerika di Birmingham, Alabama, yang menewaskan empat anak perempuan pada tahun 1960-an silam. (ita/ita)











































