Pemimpin negara adikuasa itu tampak geram karena insiden penembakan massal seperti itu kerap terjadi di AS. Terlebih Obama sudah sering menyerukan pembatasan kepemilikan senjata api, namun selalu ditentang para anggota parlemen.
"Saya sudah terlalu sering membuat pernyataan seperti ini," cetus Obama dari atas podium Gedung Putih seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (19/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang waktu untuk berduka dan untuk pemulihan, namun mari kita perjelas: Pada satu titik, kita sebagai negara harus menerima fakta bahwa kekerasan massal seperti ini tidak terjadi di negara-negara maju lainnya," kata Obama.
"Ini tidak terjadi di tempat lain dengan tingkat frekuensi seperti ini. Dan kita punya kuasa untuk melakukan soal ini," tegasnya.
Sembilan orang tewas dalam aksi penembakan brutal di Gereja Emanuel AME pada Rabu (17/6) malam waktu setempat. Kepolisian setempat telah menyatakan insiden ini sebagai kejahatan karena kebencian. Gereja Emanuel AME merupakan salah satu gereja terbesar dan tertua bagi warga kulit hitam di wilayah tersebut. Gereja yang selesai dibangun pada tahun 1891 itu dianggap sebagai gedung yang sangat bersejarah.
Penembakan bermotif rasis ini mengingatkan pada pengeboman di gereja Afrika-Amerika di Birmingham, Alabama, yang menewaskan empat anak perempuan pada tahun 1960-an silam.
(ita/ita)










































