Kematian ini merupakan yang pertama terkait MERS di kawasan Eropa sepanjang tahun ini. Korban jiwa pertama yang berusia 65 tahun ini dilaporkan meninggal di Kota Ostercappeln pada 6 Juni lalu. Korban menderita penyakit paru-paru akut dan mengalami komplikasi akibat virus MERS.
Demikian disampaikan Kementerian Kesehatan wilayah Lower Saxony seperti dilansir AFP, Rabu (17/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diyakini bahwa korban jiwa ini terinfeksi MERS-CoV (coronavirus) saat berkunjung ke sebuah pasar ternak di Uni Emirat Arab, mengingat unta disinyalir menjadi pembawa virus ini.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa di Stockholm menyatakan bahwa kasus MERS di Jerman merupakan kasus MERS pertama yang terjadi di kawasan Uni Eropa, untuk tahun ini. Pada semester kedua tahun 2014 lalu, pernah terdapat satu kasus MERS di Uni Eropa.
"Fakta bahwa pasien ini sekarang meninggal, tidak mengubah penilaian risiko untuk kawasan Eropa. Risiko yang dihadapi kawasan Uni Eropa terhadap penyebaran MERS-CoV tetap rendah," ucap juru bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa, Romit Jain.
"Meskipun masuknya kasus MERS-CoV ke kawasan Uni Eropa masih mungkin, risiko penularan dari manusia ke manusia di Eropa tetap rendah," imbuhnya.
Sejauh ini, penyebaran virus MERS paling besar di luar Arab Saudi terjadi di Korea Selatan. Sudah 20 orang meninggal dan tercatat 162 kasus terinfeksi MERS muncul di Korsel. Sedangkan di Arab Saudi sendiri, terdapat lebih dari 950 kasus MERS dengan 412 kasus di antaranya berujung kematian. (nvc/nwk)











































