Tidak dijelaskan lebih lanjut asal tiga korban jiwa terbaru itu dan di mana mereka dirawat sebelum meninggal dunia. Otoritas Korsel menyebutkan, sebagian besar korban meninggal akibat MERS di Korsel telah mengalami gangguan kesehatan lain, sebelum terinfeksi MERS.
Seperti dilansir CNN, Selasa (16/6/2015), Kementerian Kesehatan Korsel mengumumkan munculnya empat kasus MERS baru di wilayahnya. Sejauh ini total ada 154 kasus terinfeksi MERS di Korsel, dengan 16 pasien di antaranya dilaporkan dalam kondisi tidak stabil.
Sedangkan jumlah orang yang dikarantina akibat MERS, baik di rumah masing-masing maupun di sejumlah fasilitas karantina, dilaporkan mengalami peningkatan. Terhitung sejak Senin (15/6), ada 5.586 orang di Korsel yang diawasi karena dikhawatirkan terinfeksi virus berbahaya ini.
Awal pekan ini, muncul tanda-tanda bahwa situasi di Korsel kembali normal. Ribuan sekolah yang sempat ditutup akibat MERS, akhirnya dibuka kembali.
Namun kewaspadaan tidak menurun, suhu tubuh anak-anak yang masuk sekolah terus dipantau di dalam ruang kelas. Guru-guru juga mengingatkan para murid untuk selalu menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan.
Tapi belum semua sekolah kembali dibuka, karena sedikitnya ada 440 sekolah yang masih tutup. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan agar sekolah-sekolah di Korsel kembali dibuka karena penyebaran virus MERS tidak terkait dengan sekolah.
Sejauh ini, penyebaran virus MERS baru terjadi di dalam lingkungan rumah sakit dan belum menyebar keluar hingga ke masyarakat umum. Penyebaran virus MERS di Korsel berawal dari seorang pengusaha berusia 68 tahun, yang baru pulang dari perjalanan bisnis di Saudi. Pengusaha ini sempat mendatangi empat rumah sakit, hingga menularkan kepada pasien dan petugas medis lainnya, sebelum dinyatakan positif terinfeksi MERS pada 20 Mei lalu. (nvc/ita)











































