DetikNews
Senin 15 Juni 2015, 15:55 WIB

Polisi Hong Kong Sita Peledak dan Tangkap 9 Aktivis Radikal

Novi Christiastuti - detikNews
Polisi Hong Kong Sita Peledak dan Tangkap 9 Aktivis Radikal Lokasi penyitaan bahan peledak di Hong Kong (Reuters)
Hong Kong - Kepolisian Hong Kong menangkap 9 anggota kelompok politik radikal, termasuk mahasiswa dan asisten dosen. Sejumlah bahan peledak juga disita dari orang-orang yang ditangkap.

Penangkapan ini terjadi menjelang voting krusial soal reformasi polisi di Hong Kong yang akan berlangsung pekan ini. Namun belum diketahui pasti apakah temuan peledak dan penangkapan ini terkait dengan voting tersebut.

Juru bicara kepolisian Hong Kong enggan membenarkan maupun mengomentari laporan tersebut. Namun media-media Hong Kong banyak melaporkan penangkapan ini, seperti dilansir Reuters, Senin (15/5/2015).

Mengutip sumber kepolisian, media setempat, South China Morning Post melaporkan bahwa bahan peledak yang disita merupakan jenis triacetone triperoxide (TATP). Bahan peledak ini ditemukan di gedung bekas studio Asia Television Limited (ATV) di salah satu wilayah Hong Kong.

TATP sendiri merupakan bahan peledak baru yang banyak digunakan di kawasan Timur Tengah. Kelompok ekstremis di Israel dan juga London, Inggris diketahui pernah menggunakan TATP dalam aksinya.

Selain bahan peledak, polisi Hong Kong juga menyita bahan kimia yang biasa digunakan untuk merakit bom beserta sejumlah senapan angin. Semua benda berbahaya itu disita dari beberapa rumah tersangka yang ditangkap. Media Hong Kong lainnya, RTHK dan Cable TV juga memberitakan hal yang sama.

Anggota-anggota parlemen Hong Kong akan mengikuti voting pada akhir pekan ini. Voting yang digelar akan menentukan bagaimana Hong Kong memiliki pemimpin eksekutif selanjutnya pada tahun 2017 mendatang.

Otoritas China telah mengusulkan pemilihan langsung bagi kandidat pemimpin eksekutif Hong Kong yang pro-Beijing. Terhadap usulan itu, anggota parlemen Hong Kong yang pro-demokrasi menegaskan akan memveto kandidat yang diajukan otoritas China. Isu ini juga yang telah memicu unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong tahun lalu.
(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed