AS Tewaskan Tokoh Militan Berbahaya Belmokhtar di Libya

AS Tewaskan Tokoh Militan Berbahaya Belmokhtar di Libya

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 15 Jun 2015 08:53 WIB
AS Tewaskan Tokoh Militan Berbahaya Belmokhtar di Libya
Ilustrasi (Getty Images)
Tripoli - Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Libya. Pentagon mengakui serangan itu memang ditargetkan pada tokoh militan berbahaya, Mokhtar Belmokhtar, yang berhasil dibunuh dalam serangan itu.

Komandan militer bermata satu, Belmokhtar merupakan pemimpin militan Al-Murabitoun asal Afrika dan mantan pemimpin militan Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM). Serangan tersebut dilakukan pada Sabtu (13/6) malam waktu setempat oleh angkatan udara AS.

Belmokhtar merupakan otak utama di balik penyerbuan dan penyanderaan sebuah pabrik gas di Aljazair pada tahun 2013 lalu. Sedikitnya 38 orang, yang sebagian besar warga negara Barat, termasuk warga AS tewas dalam penyanderaan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Senin (15/6/2015), pemerintah Libya menyebut Belmokhtar tewas akibat serangan jet tempur AS di wilayahnya. Menurut pemerintah Libya, serangan udara AS itu telah dikonsultasikan dengan pemerintah Libya terlebih dahulu.

Secara terpisah, juru bicara Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, Kolonel Steve Warren menyatakan bahwa Belmokhtar memang menjadi target serangan AS di Libya.

"Saya bisa memastikan bahwa target serangan antiterorisme di Libya adalah Mokhtar Belmokhtar," tegasnya.

"Belmokhtar memiliki sejarah panjang memimpin aktivitas terorisme sebagai anggota AQIM, maupun sebagai pemimpin operasional jaringan Al Murabitoun di Afrika barat daya, yang masih terkait Al-Qaeda, dan tetap menjaga kesetiaannya pada Al-Qaeda," imbuh Warren.

"Belmokhtar juga mengarahkan serangan tahun 2013, di In-Amenas, Aljazair yang menewaskan sedikitnya 38 orang dari 10 negara, termasuk tiga warga Amerika dan terus memberikan ancaman berkelanjutan terhadap warga negara AS," sebutnya.

"Serangan dilakukan oleh pesawat AS. Kami terus mengkaji hasil dari operasi ini dan akan memberikan informasi detail yang diperlukan," tandas Warren. (nvc/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads