Seperti dilansir dari AFP, Minggu (14/6/2015), Suu Kyi mengunjungi Beijing, Shanghai dan provinsi Yunnan, yang berbatasan dengan Myanmar. Beijing adalah pendukung utama mantan junta militer Myanmar, sementara itu di bawah sanksi-sanksi Barat dan sekutu internasional Suu Kyi menjalani tahanan rumah selama lebih dari 15 tahun.
Menurut Daily Yunan, Suu Kyi bertemu Liu Jiheng, sekretaris Partai Komunis Yunnan, di Kunming, ibukota provinsi, pada hari Sabtu. Dalam pertemuan tersebut, Suu Kyi mengatakan pengalaman Yunnan dengan pembangunan ekonominya adalah model yang bisa ia bawa ke Myanmar, menurut laporan tersebut, Suu Kyi juga menekankan kepada Liu bahwa populasi menekankan populasi etnis dibagi di dua sisi perbatasan.
"Kunjungan Aung San Suu Kyi ke China akan memperkuat hubungan antara kedua belah pihak serta saling pengertian antara pemimpin Cina dan tokoh politik Myanmar terkenal," kata sebuah komentar dari kantor berita resmi Xinhua, Jumat.
Saat ini hubungan Tiongkok dan Myanmar tengah memiliki hubungan dingin, sebagai negara yang telah memperkenalkan reformasi demokratis dan membuka ekonomi ke Barat. Sementara dalam beberapa bulan terakhir pemberontakan etnis di wilayah Kokang Myanmar telah tumpah di perbatasan ke Tiongkok.
(yds/imk)











































