Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/6/2015), insiden ini terjadi di desa Qalb Loze, Provinsi Idlib pada Rabu (10/6) waktu setempat. Desa tersebut ditinggali oleh warga Druze, yang merupakan komunitas keagamaan yang muncul dari Islam dan dipengaruhi filsafat Yunani.
Kebanyakan komunitas Druze tinggal di Libanon. Namun ada juga yang tinggal di Suriah, Yordania dan Israel. Oleh jaringan Al-Qaeda, Druze dianggap sebagai aliran sesat.
Kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights menyebut, penyerbuan ini berujung penembakan brutal, ketika seorang anggota Nusra Front berusaha menyita rumah warga desa setempat, yang ketahuan bertempur bersama militer Suriah.
Para korban tewas termasuk warga lanjut usia dan sedikitnya satu bocah. Seorang anggota Nusra Front juga tewas dalam baku tembak di desa itu, ketika warga desa berhasil merebut senjata salah satu militan.
Melalui media sosial, pendukung Nusra Front menyalahkan warga desa yang menolak menyerahkan rumahnya kepada militan yang mendatangi mereka. Akun tersebut tidak menyebut jumlah korban tewas.
Namun kantor berita Suriah, SANA dengan tegas menyebut penyerangan itu sebagai pembantaian massal.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera bulan lalu, pemimpin Nusra Front mendesak anggota sekte Alawite yang terdiri atas elite politik Suriah dan juga kelompok minoritas lainnya, untuk mengubah kepercayaannya dan meninggalkan Presiden Suriah Bashar al-Assad jika ingin selamat.
Nusra Front merupakan kelompok militan paling berpengaruh di Suriah setelah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Kedua kelompok militan ini sama-sama menganut ideologi Sunni, namun tidak bersekutu.
(nvc/ita)











































