Peringatan "siaga merah" ini akan dikeluarkan menyusul dilaporkannya delapan kasus baru di Korsel, sehingga kini jumlah pasien MERS mencapai 95 orang, dengan tujuh di antaranya meninggal.
Wakil pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (9/6/2015), peringatan "siaga merah" akan segera dikeluarkan.
Kondisi siaga merah ini, menurut pemerintah Hong Kong, dianggap sebagai ancaman signifikan. Ini artinya, masyarakat harus menjadwalkan ulang perjalanan dan menghindari perjalanan yang tidak perlu.
Sebelumnya pada Senin (8/6) kemarin, Hong Kong meningkatkan responsnya atas wabah MERS di Korsel menjadi "serius".
Menurut Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit Uni Eropa (ECDC), Korsel kini menempati peringkat ketiga dalam daftar negara-negara dengan jumlah pasien MERS terbanyak. Peringkat pertama dan kedua diduduki Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Korban meninggal pertama kasus MERS di dunia tercatat pada Juni 2012 di Arab Saudi. Virus MERS ini berasal dari keluarga koronavirus yang mencakup virus flu dan SARS, dan dapat menyebabkan demam, gangguan pernapasan, pneumonia dan gagal ginjal.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini, secara global total kasus MERS mencapai 1.244 pasien, dengan setidaknya 446 kematian.
(ita/ita)











































