Seperti dilansir Reuters, Kamis (4/6/2015), puluhan keluarga korban ini nekat menempuh 8 jam perjalanan dengan bus dari Nanjing menuju ke distrik Jianli, Hubei yang dekat dengan lokasi tenggelamnya kapal. Mereka tiba di Jianli pada Rabu (3/6) tengah malam dan langsung long march ke lokasi.
Namun perjalanan mereka dihadang oleh sekitar 20-25 polisi paramiliter yang membantu barikade dan menghalangi keluarga korban mendekati lokasi kejadian. Aksi saling dorong pun terjadi antara keluarga korban dengan polisi, hingga akhirnya barikade polisi berhasil diterobos.
"Ini tidak akan banyak berpengaruh, kami melakukan ini hanya agar pemerintah bisa melihat," tutur penyelenggara aksi protes, Wang Feng.
Menanggapi aksi protes keluarga korban ini, Wakil Kepala Kepolisian Provinsi Jiangsu menuturkan kepada keluarga korban bahwa mereka bisa mendekati lokasi kejadian hanya pada siang hari. Tidak dijelaskan kapan kunjungan akan dilakukan.
Namun, Wakil Kepala Kepolisian Provinsi Jiangsu berjanji akan menyediakan sejumlah bus bagi keluarga korban untuk melihat langsung lokasi kejadian pada pagi hari. Sayangnya, jurnalis tidak diizinkan ikut dalam kunjungan bersama keluarga korban tersebut.
Sementara itu, para relawan di Jianli menawarkan tumpangan dan memberikan minuman kepada keluarga korban. Beberapa keluarga korban tak kuasa menahan air mata ketika berada di dekat lokasi kejadian.
Kapal pesiar Eastern Star tengah dalam perjalanan 11 hari dari Nanjing, dekat Shanghai menuju ke Chongqing, ketika tenggelam di Sungai Yangtze pada Senin (1/6) malam waktu setempat. Total ada 456 orang di dalam kapal tersebut.
Para penumpang kapal tersebut merupakan turis domestik China dan sebagian besar sudah lanjut usia. Sejauh ini, hanya 14 orang termasuk sang kapten kapal yang berhasil diselamatkan oleh petugas. Korban tewas terus bertambah dan mencapai 65 orang. Lebih dari 370 penumpang lainnya masih hilang.
(nvc/ita)











































