Seperti dilansir AFP, Rabu (3/6/2015), pernyataan Presiden Aquino ini disampaikan dalam kunjungan di Jepang. Pernyataan ini muncul di tengah kegelisahan atas program reklamasi China di wilayah perairan internasional, termasuk pembangunan landasan pesawat yang cukup panjang bagi pesawat militer.
"Jika memang ada kekosongan, jika Amerika Serikat yang merupakan negara adikuasa, mengatakan 'kami tidak tertarik, mungkin tidak ada rem bagi ambisi negara-negara lain," ucap Presiden Aquino di hadapan pengusaha di Tokyo ketika ditanya soal meningkatnya kekuatan China dan peran AS dalam meredamnya.
"Saya seorang mahasiswa sejarah yang amatir dan saya ingat... bagaimana Jerman dulu menguji situasi dan apa respons dari berbagai kekuatan negara Eropa," sebutnya merujuk pada pencaplokan wilayah yang dilakukan Nazi beberapa bulan sebelum Perang Dunia II terjadi.
"Mereka menguji situasi dan mereka siap mundur jika misalnya, dalam aspek itu, Prancis mengatakan demikian. Tapi sayangnya, hingga pencaplokan Sudetenland, Czechoslovakia, bahkan pencaplokan seluruh negara Czechoslovakia, tidak ada satupun yang mengatakan setop (kepada Nazi)," imbuh Aquino.
"Jika seseorang mengatakan hentikan kepada (Adolf) Hitler pada saat itu, atau kepada Jerman pada saat itu, tentu kita akan terhindar dari Perang Dunia II," ujarnya.
Komentar keras Aquino ini muncul setelah Presiden AS Barack Obama mengomentari ketegangan yang meningkat di Laut China Selatan. Dalam komentarnya, Obama mendorong negara-negara kawasan -- khususnya China -- untuk menghormati hukum dan berhenti saling tunjuk.
Otoritas China menolak permintaan AS untuk menghentikan seluruh aktivitas reklamasi yang dilakukannya di wilayah perairan Laut China Selatan. China bersikeras pihaknya memiliki kedaulatan atas nyaris seluruh wilayah Laut China Selatan.
Di sisi lain, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Taiwan juga mengklaim punya kedaulatan atas wilayah tersebut.
(Novi Christiastuti/Rita Uli Hutapea)











































