Prancis Selidiki Keaslian Video Penyanderaan Warganya di Yaman

Prancis Selidiki Keaslian Video Penyanderaan Warganya di Yaman

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 01 Jun 2015 17:02 WIB
Prancis Selidiki Keaslian Video Penyanderaan Warganya di Yaman
Ilustrasi
Paris - Kementerian Luar Negeri Prancis tengah menyelidiki keaslian video penculikan wanita Prancis di Yaman. Dalam video itu, si wanita Prancis memohon kepada Presiden Francois Hollande untuk membantu pembebasannya.

Video ini dilaporkan oleh surat kabar Prancis, Quest-France pekan ini. Wanita Prancis dalam video itu diidentifikasi sebagai Isabelle Prime, yang diketahui bekerja sebagai konsultan untuk proyek Bank Dunia, Social Fund for Development di Yaman. Demikian seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (1/6/2015).

Video berdurasi 21 detik itu menunjukkan Prime yang duduk di tengah gurun pasir, dengan pakaian serba hitam dan mengucapkan permohonannya dalam bahasa Inggris. Prime memohon kepada Presiden Prancis dan Presiden Yaman untuk melakukan tindakan demi memastikan pembebasannya.

"Mr Hollaande dan Mr Hadi (Presiden Yaman), nama saya Isabelle, saya telah diculik sejak 10 minggu lalu di Yaman, di Sanaa. Tolong segera bawa pulang saya ke Prancis karena saya sangat, sangat lelah," ujar Prime dalam video tersebut.

"Saya berusaha bunuh diri beberapa kali karena saya tahu Anda tidak akan bekerja sama dan saya bisa memahaminya," imbuhnya.

Prime yang berusia 30 tahun dan penerjemahnya yang warga asli Yaman, Shereen Makawi diculik sekelompok pria bersenjata di Sanaa pada Februari lalu. Keduanya diculik saat dalam perjalanan ke tempat kerja mereka.

Pada Maret lalu, sumber dari kelompok etnis Yaman sempat menuturkan bahwa Prime akan segera dibebaskan, namun ternyata informasi itu tidak akurat. Hingga kini belum diketahui kelompok maupun pihak yang mendalangi penculikan Prime. Dalam video, mereka terlihat memakai seragam polisi setempat.

Sedangkan Makawi telah dibebaskan terlebih dulu. Kepada otoritas setempat, Makawi mengakui dirinya dibebaskan di Aden pada 10 Maret lalu.

Sejak penculikan Prime, situasi di Yaman semakin memburuk. Presiden Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi dan pemberontak Houthi menguasai sebagian wilayah Yaman. Hingga kini, koalisi yang dipimpin Saudi terus membombardir Houthi untuk melumpuhkannya.

Kasus penculikan di Yaman biasanya didalangi kelompok etnis atau kelompok militan tertentu, yang memang sengaja menculik warga asing demi menekan pemerintah untuk mengabulkan tuntutan mereka atau sebagai pertukaran atas kolega mereka yang ditahan. Bahkan kelompok-kelompok etnis Yaman dilaporkan sering menjual warga asing yang mereka sandera kepada militan jaringan Al-Qaeda, yang tercatat sebagai militan paling aktif di Yaman.

(Novi Christiastuti/Nograhany Widhi Koesmawardhani)


Berita Terkait