Seperti dilansir Reuters, Rabu (26/5/2015), pesawat Air France dari Paris, Prancis harus dikawal dua jet tempur F-15 milik AS hingga ke Bandara Internasional John F Kennedy, New York pada Senin (25/5) sore waktu setempat. Ini dilakukan setelah otoritas AS menerima laporan ancaman bom terhadap pesawat tersebut.
Pesawat itu mendarat dengan selamat di New York dan dinyatakan aman setelah pemeriksaan dilakukan. Juru bicara Biro Investigasi Federal (FBI), J Peter Donald menyatakan, tidak ada hal berbahaya yang ditemukan pada penumpang maupun awak pesawat tersebut.
Secara terpisah, pejabat AS lainnya menyebut ancaman juga menimpa beberapa pesawat dari dan ke bandara-bandara di AS, termasuk Newark di New Jersey dan Atlanta di Georgia pada hari yang sama. Penerbangan dari dan ke kota-kota di Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta dari Timur Tengah juga mendapat ancaman.
Otoritas AS meyakini bahwa seluruh ancaman ini dilaporkan kepada kepolisian lokal masing-masing wilayah, oleh orang yang sama. Namun demikian, identitas dan motif si penelepon belum diketahui pasti.
Dari ancaman-ancaman tersebut, tidak ada satupun bukti bahan peledak yang ditemukan. Pejabat AS menyebut ancaman semacam ini sangat mengganggu dan membuang-buang waktu aparat penegak hukum.
Untuk sementara, analisis yang muncul ialah ancaman ini sengaja dilakukan oleh individu, yang ingin memicu kekacauan. Atau mungkin seseorang yang mengalami gangguan mental atau usaha dari seseorang maupun kelompok tertentu, untuk menguji bagaimana respons otoritas AS terhadap ancaman seperti ini.
Otoritas keamanan penerbangan AS biasanya menerima dan menyelidiki satu ancaman setiap harinya. Namun kasus ini sedikit berbeda karena melibatkan 11 ancaman terhadap penerbangan di wilayah AS.
(Novi Christiastuti Adiputri/Rita Uli Hutapea)











































