Sebelum Diselamatkan Myanmar, Imigran Rohingya Dibawa Pergi dari Kapal

Sebelum Diselamatkan Myanmar, Imigran Rohingya Dibawa Pergi dari Kapal

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Rabu, 27 Mei 2015 14:10 WIB
Sebelum Diselamatkan Myanmar, Imigran Rohingya Dibawa Pergi dari Kapal
Warga Rohingya di Myanmar (Reuters)
Yangon, - Ketika kapal militer Myanmar menyelamatkan dua kapal imigran gelap pekan lalu, diumumkan adanya 200 imigran yang sebagian besar berasal dari Bangladesh. Namun ternyata, ada ratusan imigran Rohingya asal Myanmar yang telah dibawa kabur pelaku sebelum kapal Myanmar datang.

Dalam pernyataannya saat itu, otoritas Myanmar mengakui menemukan dua kapal imigran. Namun satu kapal dilaporkan kosong sedangkan satu kapal lainnya berisi imigran yang sebagian besar dari Bangladesh. Myanmar hanya menyebut adanya 8 imigran asal Rohingya di kapal tersebut.

Namun dalam wawancara dengan Reuters, Rabu (27/5/2015), beberapa imigran selamat yang ada di kapal menyebutkan, bahwa sebenarnya ada sekitar 150-200 imigran asal Rohingya. Menurut imigran selamat ini, kebanyakan imigran Rohingya dibawa pergi secara diam-diam oleh para pelaku penyelundup manusia, sekitar seminggu sebelum kapal Myanmar menemukan kapal imigran itu.

"Semua Rohingya diturunkan dari kapal. Imigran Bangladesh ditinggal di kapal," tutur seorang wanita Rohingya yang menyebut dirinya sebagai Arafa (27). Dia ada di kapal itu bersama 5 anaknya dan hendak menyusul suaminya di Malaysia.

Arafa menuturkan, dirinya dan kelima anaknya dikembalikan ke desa mereka di Thek Kay Pying, Myanmar, sebelum kapal militer Myanmar datang pada Kamis (21/5) lalu. Keterangan imigran Rohingya ini tidak bisa dikonfirmasi secara independen. Namun sekitar enam warga etnis Rohingya lain yang tinggal di desa yang sama dengan Arafa, mengaku mereka juga termasuk dalam imigran Rohingya yang diturunkan dari kapal.

Masih belum jelas mengapa para pelaku penyelundup manusia hanya membawa imigran Rohingya keluar dari kapal. Belum diketahui pasti apakah ada keterlibatan otoritas Myanmar dalam hal ini.

Direktur Eksekutif kelompok HAM yang berbasis di Asia Tenggara, Fortify Rights, Matthew Smith menyatakan dalam testimoninya kepada Kongres Amerika Serikat, militer Myanmar secara tidak langsung mendapat keuntungan dari aktivitas penyelundupan manusia. Pemerintah Myanmar sendiri telah membantah keras tudingan ini.

Saat dikonfirmasi soal hal ini, seorang pejabat dari kantor presiden Myanmar, Zaq Htay mengaku tidak menyadari adanya imigran lain di atas kapal, selain imigran asal Bangladesh dan delapan imigran Rohingya, atau yang biasa disebut sebagai 'Bengalis'.

"Kantor kami tidak mendapat informasi soal adanya beberapa dari imigran yang telah pergi sebelumnya," ujarnya kepada Reuters.

Reuters sendiri mendapat keterangan dari tujuh warga Rohingya dari desa yang sama dan dua kepala desa setempat yang enggan disebut namanya. Mereka menuturkan, kapal imigran itu sudah 2 bulan melepas jangkar di pantai Myanmar sebelum ditemukan kapal Myanmar.

Menurut orang-orang ini, terdapat sekitar 200 imigran asal Bangladesh dan sekitar 150-200 imigran Rohingya di atas kapal. Namun sekitar seminggu sebelum kapal dibawa ke tepi pantai oleh militer Myanmar, kapal-kapal nelayan mendekat dan mulai mengevakuasi imigran Rohingya dari kapal itu.

Untuk memastikan apakah keterangan warga Rohingya ini bisa dipercaya, Reuters menunjukkan foto-foto para imigran asal Bangladesh yang diselamatkan Myanmar dan hadir dalam upacara yang dihadiri pejabat PBB. Baik Arafa maupun warga Rohingya lainnya, secara terpisah, bisa mengenali dan menyebut nama-nama imigran Bangladesh dengan benar.

Hal ini mengkonfirmasi bahwa mereka memang kenal dan benar-benar ada dalam satu kapal dengan imigran Bangladesh tersebut.

(Novi Christiastuti Adiputri/Rita Uli Hutapea)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads