"Kami menyesali hilangnya nyawa secara tidak disengaja," ujar Letnan Jenderal James Terry yang merupakan pemimpin operasi koalisi AS terhadap ISIS, dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Jumat (22/5/2015).
Ini merupakan yang pertama kalinya militer AS mengakui jatuhnya korban tewas sipil dalam operasi militernya. Operasi yang dimaksud ialah serangan pada 5-6 November 2014 lalu, yang menargetkan anggota kelompok Khorasan, jaringan Al-Qaeda di Harim City.
"Serangan tersebut dirancang untuk menghancurkan target yang digunakan ekstremis Khorasan dalam memproduksi bahan peledak," demikian bunyi laporan investigasi AS.
Namun, lanjut laporan tersebut, pengeboman itu menewaskan dua anak-anak, termasuk seorang anak perempuan militan setempat. Pengeboman itu juga melukai dua warga sipil lainnya yang tinggal di dekat gedung yang menjadi target serangan.
Laporan juga menyebutkan, bahwa penyelidikan awal sebelum serangan menunjukkan tidak adanya anak-anak di sekitar target serangan. Menurut laporan tersebut, serangan udara AS dan koalisi dirancang untuk menghindari korban sipil dan diyakini hanya akan mengenai target militer.
Kendati demikian, laporan investigasi tersebut menyatakan tidak ada kesalahan ataupun kelalaian oleh militer AS dalam mengawasi atau melakukan serangan udara.
Selama ini, sejumlah kelompok HAM menuding serangan udara AS terhadap ISIS di Suriah dan Irak telah menewaskan puluhan warga sipil. Menanggapi tudingan ini, Pentagon menyatakan, pihaknya belum bisa mengkonfirmasikan dengan pasti soal jatuhnya korban sipil, secara tidak sengaja, dalam serangan udara AS.
Operasi militer AS dan koalisi dimulai pada Agustus 2014 di Irak dan meluas hingga ke Suriah pada September 2014 lalu. Penyelidik militer AS telah memeriksa sejumlah laporan dan keterangan dari Syrian Network for Human Rights serta beberapa video serangan, untuk mencari tahu kebenaran tudingan itu.
"Sangat penting untuk ditekankan bahwa dengan kondisi saat ini di Suriah dan Irak, semakin membuat penyelidikan atas tudingan ini semakin menantang," tutur juru bicara Pentagon, Komandan Elissa Smith.
(Novi Christiastuti Adiputri/Andi Saputra)










































