Pemerintah AS meyakini Abu Sayyaf terlibat dalam mengurus para sandera asing ISIS, termasuk Kayla Mueller, relawan asal AS yang dilaporkan tewas pada Februari lalu. Demikian disampaikan beberapa pejabat keamanan AS, seperti dilansir Reuters, Selasa (19/5/2015).
Gedung Putih AS menuturkan pada Sabtu (16/5) lalu, tentara AS yang ditugaskan di Irak telah melakukan penyerbuan via darat terhadap persembunyian ISIS di wilayah Suriah bagian timur. Penyerbuan itu bertujuan untuk menangkap Abu Sayyaf dan istrinya Umm Sayyaf.
Umm Sayyaf berhasil ditangkap oleh tentara AS, namun Abu Sayyaf tewas setelah terlibat pertempuran dengan tentara AS. Dalam penyerbuan itu, tentara AS berhasil membebaskan seorang wanita etnis Yazidi yang diduga dijadikan budak oleh Abu Sayyaf dan istrinya.
Menurut pejabat keamanan AS ini, Umm Sayyaf kemungkinan akan diinterogasi oleh anggota High-Value Detainee Interrogation Group (HIG), unit yang dibentuk setelah Presiden Barack Obama menutup program pemberantasan terorisme CIA yang dikritik karena menggunakan penyiksaan dalam interogasi.
Pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Umm Sayyaf, lanjut pejabat keamanan AS ini, akan berkutat soal apa yang diketahuinya terkait penyanderaan warga asing oleh ISIS. AS meyakini bahwa suami Umm Sayyaf melakukan interaksi langsung dengan para sandera asing, termasuk Mueller.
Meskipun tidak diragukan lagi bahwa peran Umm Sayyaf sebagai istri tentu terbatas dan tidak seluas Abu Sayyaf. Namun paling tidak ada informasi berguna yang didapat dari Umm Sayyaf.
Pejabat AS dan sumber yang dekat dengan keluarga sandera menyebut, ISIS hingga kini diyakini masih menyandera beberapa warga asing, termasuk jurnalis asal Inggris, John Cantlie. Namun diyakini tidak ada lagi warga AS yang menjadi sandera ISIS.
(nvc/ita)











































