40 Tahun Koma Usai Disodomi, Perawat India Meninggal Dunia

40 Tahun Koma Usai Disodomi, Perawat India Meninggal Dunia

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Selasa, 19 Mei 2015 13:05 WIB
40 Tahun Koma Usai Disodomi, Perawat India Meninggal Dunia
Ilustrasi
New Delhi - Seorang perawat di India yang menjadi korban sodomi, telah koma selama 40 tahun terakhir. Namun akhirnya perempuan itu meninggal dunia. Aruna Shanbaug yang kini berusia 66 tahun telah menjalani perawatan medis di rumah sakit sejak disodomi rekan kerjanya pada tahun 1973 lalu.

Saat kejadian pada November 1973, Shanbaug yang berusia 26 tahun diserang oleh asisten perawat di rumah King Edward Memorial (KEM) di Mumbai, seusai menjalankan tugas jaga malam. Dia disodomi dan sempat dijerat lehernya dengan rantai anjing oleh pelaku.

Shanbaug berhasil selamat, namun rantai anjing yang digunakan pelaku memotong aliran oksigen ke otak Shanbaug dan membuatnya koma. Si pelaku Sohanlal Bhartha Walmiki telah diadili oleh pengadilan setempat dan divonis 7 tahun penjara atas dakwaan penyerangan dan perampokan. Sayangnya, Walmiki tidak pernah diadili atas kekerasan seksual karena saat itu, sodomi tidak dianggap sebagai pemerkosaan.

"Dia (Shanbaug) meninggal dunia pada (18/5) pukul 08.30 waktu setempat. Dia didiagnosis pneumonia dan telah menggunakan alat bantu pernapasan sejak beberapa hari terakhir," terang direktur rumah sakit KEM, Pravin Bangar seperti dilansir Reuters, Selasa (19/5/2015).

Selama 42 tahun terakhir, Shanbaug memang dirawat di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempatnya bekerja beberapa puluh tahun lalu. Keluarga dan kerabat Shanbaug terus mendampinginya meskipun dia dalam keadaan koma selama lebih dari empat dekade.

Berbagai ucapan penghormatan disampaikan oleh politikus, selebriti dan warga India bagi Shanbaug dan keluarganya. "Duka cita mendalam saya atas meninggalnya Aruna Shanbaug. Sangat menyakitkan, melihat penderitaannya. Saya salut pada rasa kemanusiaan yang ditunjukkan perawat-perawat KEM," ucap Menteri Wilayah Maharashtra, Devendra Fadnavis via akun Twitter-nya.

Kasus Shanbaug ini mulai menjadi perhatian nasional di India pada tahun 2009 setelah aktivis dan pengarang Pink Virani yang telah menulis buku soal Shangbaug, mengajukan permohonan ke pengadilan tertinggi India untuk mengizinkan eutanasia pasif terhadap Shanbaug.

Virani berargumen bahwa kondisi Shanbaug yang koma dan tidak bereaksi sama saja dengan tidak hidup. Virani juga menyinggung proses pemberian makan kepada Shanbaug yang menggunakan makanan yang ditumbuk dan dimasukkan ke dalam mulut, yang menurut Virani, merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia.

Namun pihak rumah sakit KEM menentang argumen Shanbaug tersebut. Hingga pada tahun 2011, Mahkamah Agung India menolak permohonan Virani, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan rumah sakit KEM terhadap Shanbaug merupakan tindakan yang luar biasa karena tetap memberinya makan, memandikan dan merawatnya siang dan malam, dari tahun ke tahun.

(Novi Christiastuti Adiputri/Rita Uli Hutapea)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini