Reformasi pendidikan merupakan subjek yang sensitif bagi negara yang sangat membanggakan akses yang sama bagi pendidikan itu. Rencana untuk membenahi sekolah menengah saja ditentang oleh sebagian besar warga Prancis, kelompok oposisi konservatif dan bahkan pihak dari pemerintahan.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (19/5/2015), salah satu rencana dalam reformasi adalah memberikan kelonggaran bagi setiap sekolah untuk menentukan apa yang mereka ajarkan, untuk mengenalkan pembelajaran inter-disciplinary dan menangkal kaum elite yang bisa menjadikan siswa kurang mampu sebagai korban.
Rencana reformasi pendidikan yang digagas oleh Menteri Pendidikan Najat Vallaud-Belkacem ini ditentang habis-habisan oleh kelompok oposisi konservatif, yang menyebut rencana reformasi ini sebagai 'kapal karam untuk Prancis'.
Mereka yang menentang rencana reformasi ini menyebut aspek di dalamnya kontroversial. Salah satunya rencana untuk mengurangi jam pelajaran bahasa Latin dan Yunani. Kemudian menghapus pilihan yang mengizinkan siswa berusia 11 tahun untuk belajar dua bahasa asing dan menggantinya dengan kebebasan bagi siswa yang berusia 12 tahun ke atas.
Serikat para guru setempat, terutama yang didukung Partai Sosialis, sebagian besar menentang rencana reformasi pendidikan ini. Dalam perkumpulan yang tergolong jarang terjadi, ada tujuh serikat guru yang bergabung dalam aksi mogok yang digelar Selasa (19/5) waktu setempat di Paris.
Mereka yang ikut mogok menyebut bahwa adanya reformasi pendidikan, hanya akan meningkatkan ketidaksetaraan antara siswa dan juga meningkatkan kompetisi antar sekolah.
Survei yang dilakukan Odoxa, lembaga survei setempat, pekan lalu menunjukkan 60 persen warga Prancis menentang reformasi pendidikan itu. Alasannya, sebagian besar berpikir bahwa reformasi itu hanya akan mengganggu prestasi siswa, bukan meningkatkannya.
"Orang-orang cukup sering khawatir dengan adanya reformasi di Prancis, ini merupakan ketakutan yang sungguh-sungguh atas reformasi," ucap pengamat kebijakan pendidikan pada Organisasi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD), Eric Charbonnier.
(nvc/ita)











































